Minggu, 31 Juli 2016

5 Wasit Unik Dalam Sepakbola

Berbicara tentang wasit sepak bola tentu kita tahu mereka adalah orang yang menjadi pemimpin dalam pertandingan 2 klub sepakbola di lapangan hijau. Namun banyak wasit memiliki cerita unik di luar lapangan hijau.

Berikut 5 cerita unik Wasit sepakbola dunia.


1. Byron Moreno (Pengadil yang diadili)


Publik sepak bola Italia, bisa saja tidak akan lupa pada wasit asal Ekuador, Byron Moreno. Terutama jika mengingat tersingkirnya Italia dari babak kedua Piala Dunia 2002 Korea-Jepang. Saat itu Azzurri tersingkir karena dikalahkan tuan rumah Korsel 1-2. Yang akan diingat pendukung Italia adalah momen keputusan kontrovesial Moreno yang mengusir Francesco Totti ke luar lapangan dengan kartu merahnya. Bukan hanya itu satu gol Italia juga dianulir. Tapi sepertinya pendukung Italia kini akan merasa puas setelah mendengar Moreno harus mendekam di penjara. Tapi bukan karena keputusan kontroversial itu penyebabnya, melainkan terbukti mencoba menyelundupkan heroin di Bandara John F. Kennedy, New York, Amerika Serikat, pada 2011 lalu. Akibat ulahnya tersebut pengadilan New York memutuskan menahan Moreno selama 2,5 tahun. Pengadil yang harus diadili.


2. Carlos Jose Figueira Ferro (Wasit celana dalam merah)


Kejadian yang menimpa wasit di Liga Brasil, Carlos Jose Figueira Ferro ini cukup menggelikan. Sebagai seorang wasit, Ferro memperlihatkan ketegasannya saat memimpin pertandingan Liga Amatir yang berlangsung di Kota Anama. Salah satunya dengan memberikan kartu merah pada pemain bernama Paulo Coise karena melakukan pelanggaran berbahaya. Tapi saat akan mengeluarkan kartu merah di saku celananya, Ferro malah menarik celana dalam wanita yang juga berwarna merah. Karena malu, pertandingan yang masih tersisa 20 menit akhirnya dihentikan Ferro. Namun yang lebih sial saat pertandingan tersebut sang istri menyaksikan kejadian tersebut di bangku penonton. Tak tanggung-tanggung sebagai hukuman dari aksi memalukan tersebut, sang istri langsung mengajukan gugatan cerai pada suaminya usai pertandingan. Sudah jatuh tertimpa tangga pula Ferro.


3. Francisco Chaves (Wasit pembunuh)


Kalau cerita dari wasit, Gregorio Edio Francisco Chaves yang juga berasal dari Brasil ini cukup mengerikan. Sebagai pengadil di lapangan hijau, Chaves akhirnya akan diadili di meja hijau. Tuntutannya karena Chaves melakukan penusukan hingga tewas terhadap pemain saat pertandingan. Kejadiannya saat itu Chaves memimpin pertandingan Liga Amatir antara tuan rumah Redencao melawan Boa-Fe di Barreira. Karena telah terjadi pelanggaran oleh Francisco da Silva pemain Redencao, Chaves meniup peluit tanda pelanggaran. Namun Francisco tidak terima dengan keputusan tersebut dan menendang Chaves hingga terjadi perkelahian. Melihat perkelahian tersebut, Jose da Silva yang juga saudara Francisco datang melerai. Namun nahas bagi Jose saat akan melerai perkelahian, Chaves ternyata membawa pisau dan melakukan penusukan terhadap Jose hingga tewas. Karena pertandingan amatir, laga tanpa di kawal pihak kepolisian dan Chaves pun bisa kabur dari lapangan. Dan beberapa hari kemudian Chaves menyerahkan diri. Nekad bener wasit yang satu ini.


4. Iturralde Gonzalez (Wasit musisi punk)


Selain sebagai seorang wasit, Gonzales menyisakat cerita unik tentang pribadinya. Saat di luar lapangan, ternyata Gonzales adalah seorang gitaris band Punk Rock, Eztanda di Spanyol.
Lebih uniknya lagi, Gonzales memiliki terapi unik sebelum memimpin sebuah pertandingan. Untuk menghilangkan nerveous saat menjadi sang pengadil, Gonzales akan mendengarkan lagu “The Memory Remains” milik Metallica. Dan kalau sukses setelah memimpin laga, lagu-lagu legend Reggea, Bob Marley akan menemani hari-harinya. Terapi yang unik dan patut dicoba.


5. Bibiana Steinhaus (Wasit salah tepuk)



Kejadian unik berikut ini pasti sangat dinanti pesepakbola pria lainnya.  Insiden berlangsung dalam pertandingan Divisi 2 Liga Jerman antara Hertha Berlin melawan Alemannia Aachen yang dipimpin wasit wanita, Bibiana Steinhaus. Pada menit 55 terjadi pelanggaran oleh salah seorang pemain Hertha, Peter Niemeyer tepat di dekat Bibiana. Setelah menghentikan permainan, Niemeyer berjalan sambil membelakangi Bibiana dan bermaksud menepuk pundaknya. Namun bukan mendarat di pundak sang wasit cantik ini, tapi bersarang di (maaf) payudaranya. Karena merasa salah sentuh, Niemeyer pun lantas meminta maaf secepatnya atas kesalahan yang tak sengaja dilakukannya dan wasit cantik itu hanya tersenyum.

Sabtu, 30 Juli 2016

10 Pemain Belakang Masa Kini Paling Produktif

Mencetak gol umumnya dilakukan oleh para pemain depan dari suatu tim, tetapi ternyata juga banyak pemain belakang yang juga sering membantu tim nya mencetak gol bila para pemain depannya mengalami kebuntuan mencetak gol, biasa para pemain belakang mencetak gol dalam situasi umpan umpan mati ataupun dengan tendangan tendangan jarak jauh yang keras seperti tendangan salah satu legenda sepak bola Brazil Yaitu Roberto Carlos. Lalu siapa sajakah pemain pemain tersebut ?

Berikut 10 Pemain Belakang Paling Produktif Sepanjang Sejarah

10. Gerard Pique (FC Barcelona)


Sosoknya tak hanya dikenal sebagai palang pintu utama di skuat The Catalans. Namun, Pique juga punya kemampuan mencetak gol, terutama saat barisan depan Barca mengalami kebuntuan. Mantan punggawa Manchester United ini mampu mencetak 27 gol dari 336 pertandingan.

9. Marcel Jansen (Hamburg SV)


Nama defender yang satu ini memang sedang 'tenggelam'. Padahal, Marcel Jansen adalah salah satu pilar utama Timnas Jerman kala menembus final di Piala Eropa 2008 silam dan menjadi juara ketiga piala dunia 2010. Meski berposisi sebagai bek tengah, pemain 29 tahun ini mampu mencetak 28 gol dari 287 pertandingan.

8. Mats Hummels (Bayern Munchen)


Bek 27 tahun ini jadi salah satu nama yang diperbincangkan publik karena baru saja menandatangani kepindahannya ke klub rival Dortmund yaitu Bayern Munchen. Mampu membawa Dortmund menyaingi dominasi Bayern Munchen di Bundesliga, serta membawa Timnas Jerman juara Piala Dunia 2014. Mats Hummels juga ternyata punya kelebihan bisa mencetak banyak gol. Hummels berhasil mencetak 29 gol dari 342 pertandingan.

7. Gonzalo Rodriguez (Fiorentina)


Hijrah ke Serie A Italia. Ada nama bek Fiorentina asal Argentina, Gonzalo Rodriguez. Berposisi sebagai pemain belakang, Rodriguez ternyata punya akurasi tendangan yang cukup baik. Ia bahkan sering didaulat menjadi eksekutor penalti oleh klubnya. Terbukti, dari 374 pertandingan yang dilakoninya dirinya bisa mencetak 31 gol.

6. Branislav Ivanovic (Chelsea)


Chelsea adalah salah satu tim yang punya barisan pemain tangguh di lini belakang. Salah satunya adalah bek serba bisa asal Serbia, Branislav Ivanovic. Mobilitas tinggi dan penetrasi tajam, dimiliki oleh pemain yang satu ini. Tak jarang pergerakannya senantiasa menyulitkan lawan. Ivanovic berhasil menyarangkan 45 gol dalam 376 pertandingan.

5. Mikel San Jose (Athletic Bilbao)


Nama yang satu ini mungkin kurang dikenal diantara beberapa nama defender top Eropa. Tapi jangan meragukan kemampuannya. Selain kokoh di posisinya sebagai bek, Mikel San Jose juga mampu menjelma jadi pencetak gol ulung. Catatan 22 golnya dalam 208 pertandingan, adalah bukti San Jose juga harus disejajarkan dengan nama-nama besar lainnya.

4. Leighton Baines (Everton)


Punya kecepatan, tangguh bertahan, dan akurat dalam eksekusi bola-bola mati. Itulah kelebihan yang ada dalam diri bek sayap Everton, Leighton Baines. Meski usianya sudah 31 tahun, determinasi yang dimiliki Baines layaknya seperti pemain muda. Baines yang punya akurasi tembakan di atas rata-rata, juga sering jadi pilihan utama Roberto Martinez untuk mengeksekusi bola mati. Dirinya sudah mencatatkan 30 gol dari 455 pertandingan yang telah ia lakukan bersama everton dan timnas Inggris.

3. John Terry (Chelsea)


Nama John Terry sejatinya sudah tidak asing di telinga para penggemar Liga Inggris. Ya, tak diragukan lagi, kapten sekaligus benteng kokoh The Blues, John Terry. Kerap jadi pemecah kebuntuan bahkan jadi pahlawan bagi Chelsea lewat gol yang dibuatnya. Sudah 46 gol ia bukukan dari 567 pertandingan. 

2. Naldo (Schalke 04)


Pemain bernama lengkap Ronaldo Aparecido Rodrigues ini, ternyata jadi yang tertajam diantara para pemain belakang top Eropa. Bek 33 tahun ini mampu mencetak 49 gol dari 384 laga yang telah ia lakukan. Dengan tubuh tinggi yang dimilikinya, Naldo punya keunggulan dalam memaksimalkan bola-bola atas menjadi gol. Dan mulai musim ini Naldo akan merumput bersama Schalke setelah ditransfer dari klub lamanya yaitu VFL Wolfsburg.

1. Sergio Ramos (Real Madrid)


Ketangguhannya dalam menjaga barisan pertahanan tidak perlu diragukan. Kokohnya lini belakang Real Madrid dan Timnas Spanyol menjadi bukti. Pemain kelahiran 21 Oktober 1981 ini ternyata tidak hanya cekatan dalam meredam serangan tim lawan. Mantan pemain Sevilla ini juga mampu membuat jaring gawan lawan bergetar. Pemain yang awalnya beroperasi di sektor kanan pertahanan ini sudah mencetak 56 gol dalam 538 pertandingan.

*data diambil pada pramusim tahun 2016/2017

Jumat, 29 Juli 2016

7 Cedera Patah Kaki Paling Mengerikan Dalam Sepak Bola

Cedera parah yang menimpa mantan striker Chelsea, Demba Ba baru-baru ini mengundang banyak simpati bukan hanya dari pelaku langsung sepak bola namun juga dari publik.

Cedera Ba juga mengonfirmasi jika dunia sepakbola merupakan olahraga keras dengan risiko cedera yang sangat tinggi. Bukan kali ini saja cedera horor terjadi di lapangan hijau, cukup banyak pemain yang cedera super parah akibat tekel lawan, bertabrakan, salah jatuh, bahkan saat melakukan selebrasi.
Berikut adalah 7 Cedera Patah Kaki Paling Mengerikan Dalam Sepak Bola

1.) Demba Ba


Diawali dari cedera parah yang menimpa mantan penyerang Chelsea, Demba Ba. Dia mengalami patah tulang kaki kiri yang parah hingga disebut akan mengancam kariernya.

Cedera parah itu dialami oleh Ba saat melakoni pertandingan derby kota Shanghai antara Shanghai Shenhua melawan Shanghai SIPG, Minggu (17/7/2016), di Hongkou Football Stadium.

Dalam satu duel dengan bek SPIG, Sun Xiang, Ba mengalami cedera patah kaki kiri. Benturan itu terjadi di babak kedua pertandingan.

Ba harus ditandu keluar saat pertandingan masih menyisakan waktu selama 20 menit. Pelatih Shenhua, Gregorio Manzano, sampai pesimitis bahwa pemain 31 tahun itu bakal bisa bermain lagi usai cedera horor itu.

"Itu bisa mengakhiri karier profesionalnya," kata Manzano seperti dilansir oleh BBC Sport.

Di laga itu, Shenhua memetik kemenangan dengan skor akhir 2-1. Gol-gol tim tuan rumah dicetak oleh Yunding Cao dan hasil penalti Fredy Guarin. Sementara gol SPIG dibukukan oleh Lei WU.

Pertandingan itu juga diwarnai dengan kartu merah. Satu untuk pemain SPIG, Jiajie Wang, dan satu buat pemain Shenhua, Jiajun Bo.


2.) Aaron Ramsey


Aaron Ramsey mengalami patah kaki ketika bermain dalam sebuah pertandingan antara Arsenal melawan Stoke City tahun 2010. Tulang tibia dan fibula kaki kanan ramsey patah akibat tekel dari Ryan Shawcross. Kedua pemain berupaya memperebutkan bola sebelum terjadi insiden di babak kedua itu.
Kini Ramsey telah bangkit dan menjadi andalan The Gunners dan timnas Wales yang sedang dalam performa menanjak.

3.) David Busst


Pertandingan yang digelar di Old Trafford bulan April 1996, bek Coventry David Busst bertubrukan dengan bek Manchester United Denis Irwin. Akibatnya, Busst mengalami patah kaki yang sangat parah dengan tulang keluar dari daging dan kulit bahkan darahnya harus dibersihkan dari lapangan. Dia mengalami patah tulang tibia dan fibula dan tidak pernah bisa bermain secara profesional lagi. Kiper Inggris Peter Schmeichel, yang menyaksikan cedera, harus melakukan konseling karena mengalami trauma.

4.)Francesco Totti


Pada 19 Februari 2006, saat bermain di Coppa Italia melawan Empoli, Francesco Totti mengalami cedera kaki serius, fibula kirinya patah dan membuat ligamen interkoneksi terputus dengan maleolus.
Kemudian malam yang sama ia dioperasikan oleh ahli bedah terkenal di Italia. Dan Totti masih disegani sebagai pemain hebat hingga kini.

5.) Luc Nilis


Setelah hanya 4 menit dalam pertandingan Liga Primer, striker Belgia Luc Nilis menderita patah tulang lutut ganda ketika bertabrakan dengan kiper Ipswich Town Richard Wright, pada September 2000. Karena cedera parah, Nilis memutuskan pensiun dari sepak bola.

6.) Djibril Cisse


Cisse mengalami patah kaki kanan sangat parah setelah dilanggar oleh bek Shandong Luneng. Kejadian itu terjadi dalam pertandingan sepak bola persahabatan internasional di Saint Etienne, antara timnas Prancis dengan Cina pada tahun 2006. Cisse juga mengalami patah kaki ketika membela Liverpool.

7.) Marcin Wasilewski



Wasilewski mengalami patah tulang kaki terbuka saat Anderlecht menghadapi Standard Liege di laga super panas Liga Jupiler Belgia. Kakinya patah saat berduel dengan Axel Witsel. Pemain bertahan itu melakukan comeback sembilan bulan kemudian.

Rabu, 27 Juli 2016

Inilah Pemain Swedia Yang Pernah Membela Manchester United

Setelah mengumumkan resminya transfer striker Swedia, Zlatan Ibrahimovic dari klub ibukota Prancis,Paris Saint Germaint lini serang the red devils pun akan semakin tajam setelah diisi oleh nama nama macam Wayne Rooney, Anthoni Martial, dan youngster Manchester United yaitu Marcus Rashford. Namun tahukah anda hanya sedikit pemain dari Swedia yang pernah berseragam setan merah ?, mereka semua pun ada yang tampil bersinar dan ada yang tampil tidak memuaskan. Siapa sajakah pemain tersebut.

Berikut Pemain Swedia yang pernah membela Manchester United

1. Lars Jesper Blomqvist (1998-2001, 1 gol dalam 38 penampilan)


Manchester United membeli Jesper Blomqvist sebagai cadangan untuk Ryan Giggs pada tahun 1998 dari Parma (Italia) dengan harga £4.400.000. Dia banyak bermain untuk membantu United menjuarai Liga Inggris di musim 1999. Satu-satunya gol yang dia cetak untuk United terjadi saat United menang 4-1 dalam laga tandang melawan Everton.
Pemain kelahiran 5 Februari 1974 itu mendapat medali Piala FA pada tahun yang sama meskipun tidak diturunkan dalam laga final. Blomqvist termasuk pemain yang berlaga di final Liga Champions melawan Bayern Muenchen 1999. Dia hampir mencetak gol sebelum digantikan Teddy Sheringham, yang kemudian mencetak gol penyama kedudukan.
Karena cedera lutut serius, Blomqvist tidak bermain sepak bola di dua musim berikutnya, yang mengakibatkan Manchester United memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya. (Selama cedera ini, ia melakukan pekerjaan media di MUTV. Dia diberi program acara masak sendiri bernama “Cooking With Jesper”).
Meski demikian, Ferguson membujuk manajer Everton Walter Smith untuk memberi kontrak jangka pendek kepada pemain timnas Swedia itu di Goodison Park, dari November 2001 hingga akhir musim. Blomqvist bermain di sayap bersama rekan senegaranya Niclas Alexandersson, dan mencetak gol pertamanya untuk Everton melawan Sunderland pada Januari 2002. Masih karena masalah cedera, dan datangnya manajer baru David Moyes, dia akhirnya meninggalkan Everton pada bulan Juni 2002.
Dia memiliki waktu trial di Middlesbrough, tapi tidak senang dengan situasi penanganan klub yang dia sebut “sedikit tidak profesional:. Dia kemudian bergabung dengan tim asuhan Alan Curbishley, Charlton Athletic, dengan status bebas transfer di mana dia hanya bermain tiga kali di liga.

2. Bojan Djordjic (1999-2004, 0 gol dalam 2 penampilan)


Lahir di Belgrade, Serbia, SFR Yugoslavia, Serbia 6 Februari 1982. Bojan Djordjic memulai karirnya di IF Brommapojkarna sebelum pindah ke Manchester United pada tahun 1999 sebagai pemain muda. Meskipun dianggap sebagai pemuda berbakat, ia hanya membuat dua penampilan untuk United. Tapi dia dianugerahi pelatih tim muda Jimmy Murphy sebagai Player of the Year Award di usia 18 tahun. Dia juga mencetak gol chip mengesankan saat melawan Celtic pada 15 Mei 2001, saat dia masuk sebagai pengganti Ryan Giggs di laga testimonial Tom Boyd yang dimenangi United 2-0 di Celtic Park.
Djordjic dipinjamkan ke Sheffield Wednesday, Aarhus GF dan Red Star Belgrade, di mana ia mencetak gol pertama seniornya melawan Odense BK di Piala UEFA 2003-04, sebelum pindah ke Rangers pada Januari 2005 dengan status bebas transfer. Pada tanggal 9 Januari 2005, ia membuat debut penuh melawan Celtic di Piala Skotlandia. Namun, cedera membuat karirnya di Ibrox meredup. Dia lalu pindah ke Plymouth Argyle pada pada akhir musim 2004-05.
Pada tanggal 19 Oktober 2007, kontrak Djordjic dihentikan atas kesepakatan bersama karena kurangnya kesempatan di tim pertama. Pada tanggal 13 November, secara resmi mengumumkan bahwa ia telah menandatangani kontrak dua tahun dengan klub Swedia AIK. Selama musim mentransfer 2009, Djordjic didekati Maccabi Haifa yang menawarinya kontrak, namun Djordjic menolak dan mengatakan bahwa ia ingin tinggal dengan klub yang dicintainya, AIK.
Pada tanggal 28 Juni, media melaporkan bahwa klub Hungaria Videoton telah membeli Djordjic dan Martin Mutumba. Satu tahun kemudian, ia dihentikan kontraknya yang akan berakhir 2013. Djordjic bergabung Blackpool pada kontrak dua tahun pada Juni 2011. Dia membatalkan kontraknya dengan Blackpool dengan kesepakatan bersama pada tanggal 9 Januari 2012. Pada tanggal 4 Februari, ia menandatangani perjanjian dengan Royal Antwerp dan kini bermain untuk Chennai, India.

3. Henrik Larsson (2007, 3 gol dalam 13 penampilan)


Henrik Larsson Edward MBE lahir 20 September 1971 adalah pemain sepak bola Swedia pensiun dan manajer saat Landskrona Bois. Dia adalah seorang striker yang utama adalah atribut kecepatan yang baik dan kemampuan untuk berbalik dan menembak di daerah ketat.
Larsson memulai karirnya dengan Högaborgs BK. Dia pindah ke Helsingborg, di mana ia adalah salah satu pemain kunci ketika mereka memenangkan promosi ke Allsvenskan pada tahun 1993. Larsson kemudian pindah ke Feyenoord selama empat tahun sebelum berangkat ke Celtic pada tahun 1997.
Dia memenangkan empat gelar liga dalam tujuh tahun dengan Celtic, mencetak 242 gol dalam 315 pertandingan kompetitif, sebelum pindah ke FC Barcelona pada tahun 2004, di mana ia memenangkan dua gelar liga dan Liga Champions tahun 2006. Setelah berakhirnya kontraknya di Barcelona, Larsson kembali ke klub kota kelahirannya Helsingborg, dan bergabung dengan Manchester United pada mantra pinjaman singkat antara Januari dan Maret 2007. Dia mengumumkan pensiun dari sepakbola pada tanggal 20 Oktober 2009.
Larsson bermain untuk Swedia di tiga Piala Dunia dan tiga Piala Eropa dan merupakan mantan kapten tim nasional. Larsson mengakhiri karir internasionalnya dengan 37 gol dalam 106 pertandingan. Larsson telah memainkan floorball kompetitif pada tahun 1989. Dia melanjutkan karirnya pada bulan November 2008.

4. Zlatan Ibrahimovic (2016-Present*, 0 gol dalam 0 penampilan)


Manchester United mengumumkan penandatanganan striker Swedia Zlatan Ibrahimovic. Striker 34 tahun itu membuat 180 penampilan untuk Paris Saint-Germain dan mencetak 156 gol sebelum berlabuh ke Old Trafford.
Ibrahimovic telah memenangkan kejuaraan di empat liga berbeda, setelah memulai karir profesionalnya dengan Malmo pada tahun 1999. Dia bermain 116 kali dan mencetak 62 gol untuk negaranya, sebelum mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional bulan lalu.
Zlatan Ibrahimovic mengatakan:
“Saya benar-benar senang bisa bergabung dengan Manchester United dan saya melihat ke depan untuk bermain di Liga Premier.”
“Tak usah dikatakan bahwa saya tidak sabar untuk bekerja dengan Jose Mourinho sekali lagi. Dia adalah manajer yang fantastis dan saya siap untuk yang baru ini dan tantangan yang menarik.”
“Saya sangat menikmati karir saya sejauh ini dan memiliki beberapa kenangan indah. Saya sekarang siap untuk membuat kenangan khusus lainnya di Inggris.

Selasa, 28 Juni 2016

5 Pemain Dengan Selebrasi Paling Nyeleneh dan Kontroversial

Selebrasi merupakan hal wajib bagi pemain sepak bola setelah berhasil mencetak gol. Dari sekian banyak selebrasi, ada juga selebrasi unik yang dilakukan oleh beberapa pesepakbola.

Bagi seorang pemain, mencetak gol dan berhasil membawa tim yang dibela meraih kemenangan merupakan hal membanggakan dan merupakan tujuan dari semua pesepakbola. Maka dari itu, demi bisa mencatatkan namanya di papan skor, semua pesepakbola akan memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk berhasil mencetak gol dan membawa kemenangan untuk timnya.

Berbagai gaya dikeluarkan setelah mencetak gol mulai dari berteriak, berlari ke arah suporter, memeluk rekan satu tim dan lain sebagainya.

Namun ada juga beberapa selebrasi nyeleneh bahkan hingga menimbulkan kontroversial yang dilakukan pesepakbola.
Berikut 5 Pemain Dengan Selebrasi Paling Nyeleneh dan Kontroversial.

1. Mario Balotelli

 


Balotelli adalah salah satu pemain yang dimiliki Italia. Namun, skill mumpuni yang dimiliki mantan pemain Manchester City ini kalah dibandingkan aksi konyol nya di dalam ataupun luar lapangan.

Salah satu aksi konyolnya adalah saat masih bermain untuk City dengan melakukan selebrasi saat memetik kemenangan 6-1 atas Manchester United di Old Trafford, 23 Oktober 2011. Super Mario bermain sejak menit pertama, Balotelli berhasil mencetak gol pada menit ke 22 dan 60.

Saat mencetak gol pembuka pesta kemenangan The Citizens, Balotelli membuka jersey nya dan memperlihatkan kaos dalam bertuliskan "Why Always Me?". Hal itu dilakukan mantan pemain Inter Milan dan AC Milan tersebut sebagai sindiran kepada media Inggris yang sering membuat berita negatif tentang dirinya.


2. Luis Suarez


Penyerang timnas Uruguay ini tak pernah lepas dari aksi kontroversi ketika sebelum pindah ke Barcelona. Salah satu aksi kontroversinya di lapangan adalah saat melakukan selebrasi usai membobol gawang Everton di pertandingan pekan ke-9 Liga Primer Inggris saat itu ia masih bermain bersama Liverpool, pada 28 Oktober 2012.

Pada peertandingan yang berlangsung di Stadion Goodison Park tersebut, Suarez berhasil mencetak gol ke gawang Everton pada menit ke-14. Pemain berjuluk El Pistolero itu berlari ke arah bench The Toffees, sembari menjatuhkan diri seolah tengah melakukan aksi diving.

Selebrasi tersebut diyakini sebagai aksi balasan Suarez terhadap komentar pelatih Everton saat itu, David Moyes sebelum pertandingan. Moyes menyoroti reputasi Suarez sebagai pemain yang sering melakukan diving.
Namun, pada pertandingan tersebut Liverpool ditahan imbang dengan skor 2-2.


3. Emmanuel Adebayor


Pemain asal Togo ini memilih hengkang dari Arsenal dan hijrah ke Manchester City pada musim panas 2009. Mendapat gaji besar adalah salah satu alasan Adebayor untuk angkat kaki dari Emirates Stadium ke Etihad Stadium. Keputusannya itu mendapat cemoohan dan kritikan dari para suporter Arsenal.

Dia akhirnya berjumpa dengan mantan klubnya pada 12 September 2009. Pada pertandingan yang digelar di Emirates Stadium tersebut, The Citizens sukses meraih kemenangan dengan skor 4-2. Dan Adebayor berhasil menyumbang satu gol pada menit ke-80.

Setelah mencetak gol dengan sundulan, pemain 30 tahun tersebut berlari dari ujung lapangan ke ujung lapangan tempat di mana fans Arsenal berada. Dia berlutut sembari membentangkan tangannya di hadapan para fans Arsenal.

Selebrasi nyeleneh Adebayor tersebut mengundang kemarahan fans Arsenal. Akibatnya, sepanjang pertandingan fans Arsenal menghina mantan pemain Arsenal itu. Meski pada akhirnya meminta maaf, namun Adebayor yang kini membela Tottenham Hotspur diskorsing dua pertandingan dan denda 20 ribu poundsterling.


4. Stephen Ireland


Nama Ireland cukup terkenal saat membela Manchester City di waktu 2005 hingga 2010. Meski tak sekalipun mempersembahkan gelar juara, namun pemain kelahiran 22 Agustus 1986 ini adalah salah satu pemain penting di lini tengah The Citizens.

Dari 23 gol yang dicetak bersama Man City, Ireland pernah sekali melakukan selebrasi unik. Dan itu dilakukannya saat melawan Sunderland di laga Liga Primer Inggris, 5 November 2007.

Menerima umpan lambung Darius Vassel dari sisi kiri, Ireland langsung mengirimkan bola ke dalam gawang Sunderland dengan tendangan voli pada menit ke-67. Setelah mencetak gol, Ireland berlari dan menurunkan celananya. Akibatnya, pakaian dalam Ireland dengan logo Superman terlihat jelas. Beruntung, ia tidak mendapatkan sanksi dari FA.


5. Robbie Fowler



Fowler adalah salah satu pesepakbola yang jarang melakukan aksi kontroversial baik di dalam maupun luar lapangan. Namun, ia pernah melakukan selebrasi nyeleneh yang masih diingat sampai sekarang, yaitu saat bermain bersama Liverpool pada pertandingan melawan Everton di laga lanjutan Liga Primer Inggris musim 1998/99.

Sebelum pertandingan yang digelar di Stadion Goodison Park, pada 3 April 1999, Fowler ditimpa isu tak sedap. Legenda The Reds ini dituding pendukung The Toffees sebagai pengguna kokain. Tuduhan itu pun membuat kuping Fowler panas.


Setelah mencetak gol pembuka untuk The Reds melalui tendangan penalti pada menit ke-15, Fowler seketika melakukan selebrasi dengan menghirup garis putih di dekat gawang seolah-olah itu adalah kokain. Kendati sukses membawa Liverpool menang 3-2, namun selebrasi provokatif tersebut membuat pemain yang kini berusia 39 tahun tersebut diganjar skorsing empat laga plus denda 60 ribu poundsterling.


Baca Juga :

Sabtu, 04 Juni 2016

7 Tragedi Terburuk Dalam Sepak Bola

Di dunia ini memang semua manusia tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya terhadap dirinya, bisa jadi kejadian yang ia harapkan yang terjadi atau bisa juga kejadian yang tidak diinginkan seperti sebuah tragedi kecelakaan. Dalam sepak bola juga sudah banyak terjadi tragedi berdarah yang tidak disangka dan diinginkan, tetapi itu semua adalah kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Berikut adalah 7 Tragedi Terburuk Dalam Sepak Bola versi FTS90

 1.)Tragedi Stadion Ibrox

  • Tanggal: 5 April 1902
  • Lokasi: Stadion Ibrox, Glasgow, Skotlandia


Diawali dari sejarah buruk sepak bola Skotlandia. Saat itu tengah digelar pertandingan antara timnas Skotlandia dan Inggris.

Tragedi tersebut terjadi saat pertandingan berjalan pada menit ke-51, tribun selatan bagian belakang runtuh yang sebenarnya baru dibangun, tribun yang terbuat dari kayu ini runtuh karena hujan deras yang mengguyur pada malam sebelumnya. Para suporter jatuh dari ketinggian 12 meter kebawah tribun, 25 orang meninggal dan mencederai 517 orang lainnya.
Dan sedihnya, Stadion Ibrox kembali mengalami tragedi pada tahun 1961 dan 1971.              


2.) Tragedi Ibrox Kedua

  • Tanggal: 2 Januari 1971
  • Lokasi: Stadion Ibrox, Glasgow, Skotlandia


Lagi, Tragedi terjadi di Stadion Ibrox. Saat itu sedang digelar pertandingan antara Rangers dan Celtic, laga masih berkedudukan imbang 0-0 sampai menit 89, namun Celtic berhasil membobol gawang Rangers di menit-menit akhir pertandingan, sehingga kedudukan berubah menjadi 1-0 untuk Celtic, dan para suporter Rangers mulai meninggalkan stadion. Kerumunan suporter Rangers yang meninggalkan stadion secara bersamaan dan berdesakan menimbulkan kepanikan saat banyaknya orang yang terjepit, dan kehabisan nafas termasuk anak-anak, dan menewaskan 66 orang serta mencederai lebih dari 200 orang lainnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, disaat detik-detik terakhir perpanjangan waktu, Rangers berhasil menyamakan kedudukan lewat gol dari Colin Stein, dan para penonton yang sudah meninggalkan stadion kembali mencoba masuk ke dalam, sehingga bentrok dengan penonton yang ingin keluar. Para ofisial tidak sependapat dengan ini karena mereka mengklaim para penonton sama-sama berjalan beriringan keluar stadion. Bagaimanapun, rumor dari gol yang dibuat Colin Stein masih ramai diperbincangkan dan dipercayai hingga tahun-tahun berikutnya.


3.) Tragedi Heysel

  • Tanggal: 29 Mei 1985
  • Lokasi: Stadion Heysel, Brussels, Belgia



Pada final Liga Champions 1985 yang mempertemukan Liverpool melawan Juventus, laga tersebut digelar di Stadion Heysel, Belgia. Tembok di stadion Heysel rubuh sebelum pertandingan berjalan. Tembok stadion itu rubuh karena desakan dari para suporter Juventus yang mencoba menjauh dari para fans Liverpool yang mencoba mendesak dan menyerang mereka, akibatnya sebanyak 39 suporter meninggal dan 600 lainnya terluka, kebanyakan korban adalah para suporter Juventus.

Saat pertandingan berlangsung, kepolisian setempat masih mencoba untuk meredam aksi anarkis para suporter. Dan pertandingan itu dimenangkan oleh Juventus melalui penalti kontroversial Michel Platini. Dan semenjak kerusuhan ini, klub Inggris dilarang bertanding di semua ajang kompetisi UEFA, dan larangan ini baru dicabut pada tahun 1990-1991.

Latar belakang dari kejadian ini adalah pada tahun sebelumnya (1984) saat Liverpool juga mencapai partai final dari kejuaraan yang sama dan menghadapi AS Roma, di stadion Olympico, Roma. Liverpool menang melalui adu penalti. Dan setelah partai final itu, Suporter AS Roma menyerang suporter Liverpool, sampai-sampai suporter Liverpool harus dikawal kepolisian setempat saat kembali ke hotel dan beberapa ada yang berlindung di Kedutaan Inggris. Dan suporter Liverpool mencoba membalasnya kepada sesama suporter klub Italia.

4.) Tragedi Kebakaran di Bradford

  • Tanggal: 11 Mei 1985
  • Lokasi: Stadion Valley Parade, Bradford, England



Kali ini api yang menjadi sumber petaka. Pada hari dimana tim sepakbola Bradford City merayakan titel juara Liga Divisi Tiga. Kejadian terjadi saat pertandingan tim Bradford City melawan Lincoln City. Disaat pertandingan berjalan, salah satu suporter berulah dengan membuang puntung rokok yang masih menyala dan melemparnya ke belakang tribun stadion yang terdapat bahan-bahan yang mudah terbakar seperti tumpukan koran dan kain.
Dan kemudian, 5 menit sebelum babak pertama berakhir, asap putih muncul dari tribun belakang dimana puntung rokok dibuang, dan polisi mulai menginstruksikan para suporter untuk pindah dari blok G, tempat dimana api mulai terlihat. Dan 3 menit kemudian, wasit menghentikan pertandingan yang saat itu masih berkedudukan imbang 0-0.

Saat para suporter hendak dievakuasi turun ke lapangan, ada beberapa yang masih terjebak terjebak di tribun blok G, para suporter yang ada di dalam stadion juga mencoba mendobrak pintu keluar yang dikunci untuk menghindari suporter lain masuk saat pertandingan, dan itu benar-benar menolong banyak nyawa para penonton yang panik akibat kebakaran hebat di tribun. Banyak kayu dan material yang meleleh jatuh menimpa para penonton yang berusaha menyelamatkan diri. Dan total penonton yang tewas sebanyak 56 orang dan ikut mencederai lebih dari 250 lainnya. Ironisnya banyak dari para suporter yang merayakan setelah berhasil keluar dari stadion, seperti mereka berhasil membakar orang atau sebagainya.


5.) Tragedi Luzhniki

  • Tanggal: 20 Oktober 1982
  • Lokasi: Stadion Lenin, Moskow


Kejadian ini terjadi saat perhelatan UEFA Cup antara Spartak Moscow melawan Haarlem pada 20 Oktober 1982. Tragedi ini sengaja ditutupi untuk kebaikan masyarakat Uni Soviet pada waktu itu. Tiket pertandingan ini sebenarnya hanya terjual sedikit, hanya tribun bagian Timur saja yang dipenuhi oleh para suporter, dan hanya satu pintu gerbang keluar yang terbuka.

Beberapa menit sebelum pertandingan berakhir, Spartak Moscow masih memimpin dengan skor 1-0, dan beberapa penonton mulai terlihat meninggalkan lapangan, tetapi saat injury time, Spartak Moscow berhasil mencetak gol kedua oleh Sergei Shyetsov.

Tetapi Sergei Shyetsov mengatakan “akan lebih baik kalo saya tidak mencetak gol tersebut”, dan beberapa penonton yang sebelumnya akan meninggalkan stadion kembali ke dalam dan berhadapan dengan para penonton yang juga ingin keluar, mengakibatkan kepanikan tersendiri yang menyebabkan 66 orang tewas, walaupun banyak saksi yang mengatakan jumlah sebenarnya adalah lebih dari 340 orang. Jika itu benar, maka kejadian ini adalah tragedy terburuk sepanjang sejarah. Dan menurut beberapa saksi, kepanikan saat itu menyebabkan tangga tribun yang licin ambruk sehingga menimbulkan efek domino dan banyak penonton yang terhimpit dan terinjak-injak.


6.) Tragedi Hillsborough

  • Tanggal: 15 April 1989
  • Lokasi: Stadion Hillsborough, Sheffield, Inggris



Tragedi terburuk sepanjang sejarah sepakbola Inggris ini terjadi saat pertandingan semifinal FA Cup antara Liverpool melawan Nottingham Forest yang digelar di stadion Hillsborough ( stadion yang biasa dipakai untuk pertandingan semifinal FA Cup pada tahun 80an).

Saat itu polisi khawatir dengan jumlah fans Liverpool yang cukup banyak di luar stadion, dan membuka pintu gerbang utama yang menyebabkan beberapa fans Liverpool yang masuk melalui gerbang itu secara bersamaan.

Dan saat itu stadion juga sudah penuh dengan para suporter yang sudah siap menyaksikan pertandingan tersebut, akibat desakan para fans Liverpool yang masih berusaha masuk dan memaksa para polisi untuk membuka gerbang masuk lainnya, dengan tujuan para penonton di dalam bisa keluar stadion untuk menghindari kelebihan kapasitas stadion, tapi banyak yang tidak mengerti dan akhirnya para penonton mulai menyelamatkan diri dengan berusaha keluar melalui gerbang lainnya dan ada juga yang memanjat keluar, tetapi keadaan sudah terlambat, banyak suporter yang terhimpit dan sesak nafas.

Total korban tewas saat itu 94 orang dan mengakibatkan 766 lainnya terluka, namun 4 hari setelah kejadian itu, korban bertambah satu menjadi 95 korban, karena gadis 14 tahun yang terluka saat kejadian itu akhirnya meninggal di rumah sakit, dan 4 tahun kemudian kembali bertambah menjadi 96 korban tewas, karena akhirnya pria yang koma akibat kejadian itu meninggal dunia pada tahun 1993.


7.) Tragedi Guatemala

  • Tanggal: 16 Oktober 1996
  • Lokasi: Stadion Nasional Mateo Flores, Guatemala



Tragedi yang mengakibatkan lebih dari 80 orang tewas yang kebanyakan adalah remaja, dan mengakibatkan lebih dari 150 orang luka-luka ini terjadi di Stadion Nasional Mateo Flores, Guatemala.

Saat perhelatan kualifikasi Piala Dunia antara timnas Guatemala melawan timnas Kosta Rika, stadion yang hanya berkapasitas 45.800 itu dipenuhi oleh lebih dari 60.000 penonton, menurut beberapa media saat itu, dikarenakan banyak pihak yang menjual tiket palsu untuk pertandingan tersebut akhirnya penonton melebihi kapasitas.

Tragedi terjadi sekitar satu jam sebelum wasit meniup peluit kick-of, karena penonton semakin bertambah melebihi kapasitas stadion, banyak yang terjepit, terinjak-injak dan patah tulang, dan para ofisial akhirnya membatalkan pertandingan tersebut dan mulai mengevakuasi para korban tewas ke dalam lapangan. Banyak pihak menyalahkan para penjaga pintu gerbang yang terus membiarkan masuk para penonton walaupun sudah melebihi kapasitas stadion.


Baca Juga :


Sabtu, 21 Mei 2016

7 Pemain Top Eropa Yang Berubah Menjadi From Hero To Zero

Dalam dunia sepak bola tidak ada jaminan bahwa seseorang pemain akan selalu menunjukkan performa yang gemilang, ada kalanya sang pemain performanya bisa menjadi berubah menjadi turun drastis. Seperti musim ini banyak fans sepak bola dikejutkan oleh menurun drastisnya performa winger chelsea, Eden Hazard. Lalu ada juga pemain berbakat asal kolombia yaitu James Rodriguez yang musim ini hanya menjadi pengangat bangku cadangan Los Blancos, Real Madrid, lalu juga ada nama Fernando Torres yang mulai menemukan ketajamannya kembali bersama Atletico Madrid, dan Radamel Falcao yang masih berusaha mengembalikan performanya di premier league. Lantas siapa sajakah pemain - pemain yang nasibnya sama seperti nama-nama di atas.

7 Pemain Top Eropa Yang Berubah Menjadi From Hero To Zero.

7. Joe Cole




Cole adalah pemain andalan The Blues, Chelsea. Delapan tahun berseragam Chelsea, Cole pun  pernah merasakan manisnya mengangkat tiga trofi Premier League dan FA Cup.

Pidah ke Liverpool pada musim 2010-2011 jadi awal kehancuran karir Cole. Ia gagal total pada musim pertamanya dan langsung dipinjamkan ke Lille pada musim berikutnya.

West Ham United akhirnya menampung Cole pada tahun 2013. Namun penampilannya tak kunjung membaik dan akhirnya dibuang ke Aston Villa.

Bahkan saat ini Cole bermain untuk klub League One Inggris, Coventry City.


6. Federico Macheda




Mancheda pernah membantu Manchester United memenangi gelar Premier League musim 2008-2009 saat usinya masih 17 tahun, Pernah menjadi pemain yang sangat menjanjikan bersama MU namun Macheda tidak bisa mempertahankan performanya.

Namun di musim-musim berikutnya Macheda tak mampu berkembang. Ia pun melanglang buana bergonta-ganti klub dan saat ini bermain untuk Nottingham Forest.

5. Emanuel Adebayor 



Seperti kebanyakan pemain asal Afrika, Adebayor mengawali karir profesionalnya di Prancis. Nama Adebayor mencuat kepermukaan saat jadi bintang di AS Moncao.

Pada tahun 2006 Arsenal berhasil mendapatkan Adebayor. Empat musim di Emirates Stadium, Adebayor tampil beringas dengan menyarangkan 62 gol dari 142 penampilan.

Ketika memilih Manchester City pada tahun 2009, Adebayor mulai kehilangan ketajamannya. Ia hanya dimainkan sebanyak 34 laga dengan koleksi 15 gol selama empat musim.

Lalu Adebayor sempat melanglang buana dengan memperkuat Real Madrid, Tottenham Hotspurs dan musim ini Adebayor memperkuat Crystal Palace.

4. Mario Balotelli



Bakat saja tidak cukup untuk menjadi pesepakbola yang sukses. Setidaknya pesepakbola pun harus memiliki attitude yang baik disamping memiliki skill yang menawan.

Hal itulah yang dialami Balotelli. Kelakuan bengalnya sendiri yang membuat karirnya terpuruk saat ini.

Sempat menjadi youngster menjajikan saat bermain bersama Inter Milan, namun karena selalu memiliki masalah dengan klub yang dibelanya. Sekarang ia tengah dipinjamkan Liverpool ke AC Milan dan terancam dibuang pada bursa transfer musim panas mendatang karena performanya yang tak kunjung membaik.


3. Fabio Coentrao


Coentrao direkrut Real Madrid dari klub Portugal, Benfica pada tahun 2011 dengan biaya fanstastis yakni senilai 30 juta euro. Madrid tak segan mengeluarkan budget besar demi mendaratkan talenta muda terbaik Portugal pada saat itu.

Di awal musim Coentrao sukses tampil memukau. Namun cedera yang sering kambuh membuat bek 28 tahun itu sulit berkembang. Pada akhirnya ia terpinggirkan dari skuat dan saat ini tengah menjalani masa peminjaman di AS Monaco.

2. Phil Jones




Jones merupakan bek harapan Timnas Inggris di masa depan. Ia dipersiapkan untuk menjadi penerus John Terry karena dianggap memiliki skill bertahan yang komplit.

Manchester United mendapatkan Jones dari Blackburn Rovers pada tahun 2011. Sempat menjadi pemain reguler di skuad MU dan berduet dengan Chris Smalling.Cedera yang terus menghantam Jones membuatnya gagal bersinar. Pada musim 2015/16, Jones pun tidak banyak memberikan kontribusinya bagi Manchester United.

1. Samir Nasri



Nasri sempat digadang-gadang menjadi ‘The New Zinedine Zidane‘. Ia sukses tampil gemilang kala memainkan peran playmaker di Arsenal selama tiga musim (2009-2011).

Pada Agustus 2011, Nasri memutuskan hijrah ke Manchester City dengan biaya 25 juta euro. Bersama The Citizens, performa Nasri cenderung menurun dan hanya dijadikan sebagai pelapis di skuat The Cityzens Cedera engkel menjadi penyebab bagi Nasri sulit bersaing di skuat City yang saat ini dihuni oleh para peman-pemain kelas wahid, seperti Kevin De Bruyne dan David Silva.

Sekian dan Kunjungi terus FTS90