Tampilkan postingan dengan label Pelatih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelatih. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2016

7 Anak Dan Ayah Yang Keduanya Sukses Sebagai Pesepakbola

Orang tua merupakan sosok yang bisa dijadikan tauladan bagi anak-anaknya. Hal ini juga berlaku untuk pesepakbola, kesuksesan sang ayah menjadikan inspirasi bagi dirinya untuk sukses di dunia sepakbola. Tidak jarang juga anak-anak mereka mengikuti jejak ayahnya dengan membela klub yang sama dengan ayahnya. Bahkan dalam beberapa kesempatan anak dan ayah tersebut berada dalam satu tim sebagai pelatih dan pemain.

Berikut 7 Anak Dan Ayah Yang Keduanya Sukses Sebagai Pesepakbola.

7. Ian Wright dan Shaun Wright Philips


​Ian Wright merupakan salah satu penyerang legendaris Inggris, ia juga bersinar di tingkat klub dan sudah menjadi legenda pula di Crystal Palace dan Arsenal. Ian Wright mengumpulkan lima trofi di Arsenal dengan mencetak 185 gol dari 279 penampilan.

Shaun Wright-Phillips merupakan anak angkat dari Ian Wright, walaupun belum mencapai status legenda seperti sang ayah, pencapaiannya di klub dan timnas tidak buruk. Kariernya sebagian besar dihabiskan di Manchester CIty dan Chelsea. Ia mengumpulkan 47 gol dari 275 penampilan di kedua klub tersebut dan memboyong enam trofi juara.

6. Miguel Reina dan Pepe Reina


Miguel Reina merupakan kiper andalan Barcelona dan Atletico Madrid. Ia juga sudah meraih trofi Zamora, penghargaan untuk kiper terbaik Spanyol. Semasa bermain di kedua klub tersebut ia sudah meraih tujuh trofi juara.

Pepe Reina mengikuti jejak ayahnya dengan bermain sebagai kiper juga. Ia sudah mengumpulkan delapan trofi untuk klub yang sebagian besar ia dapatkan di Liverpool. Pepe Reina juga merupakan bagian dari skuat Spanyol pemenang Piala Dunia Afrika Selatan 2010.​

5. Frank Lampard Sr. dan Frank Lampard Jr.


​Ayah anak ini memiliki nama yang sama, sang ayah biasa dipanggil Lampard senior. Sang ayah memang bukan langganan Timnas Inggris, tetapi untuk di tingkat klub, Lampard senior sudah mencapai status legenda. Ia menghabiskan 18 tahun karirnya di West HamUnited dan mengumpulkan dua trofi FA Cup.

Frank Lampard junior memiliki karir yang lebih cemerlang dibanding sang ayah. Di Chelsea ia mengumpulkan 13 trofi juara termasuk tiga kali juara Premier League dan satu kali Champions League. Lampard junior sampai sekarang dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik milik Inggris.

4. Cesare Maldini dan Paolo Maldini


​Mereka berdua merupakan ayah dan anak yang paling sukses sebagai pemain. Cesare meraih empat trofi Serie A dan European Champion bersama AC Milan sebagai kapten. Sang anak, Paolo Maldini meraih trofi yang jauh lebih banyak dari sang ayah. Ia meraih 26 trofi selama 25 tahun karirnya bermain di AC Milan, dengan tujuh trofi Serie A dan lima kali juara Champions League.

3. Mazinho, Thiago dan Rafinha Alcantara


​Mazinho merupakan gelandang andalan Brazil ketika mereka menjuarai Piala Dunia AS 1994, Mazinho sempat bermain di Italia sebelum mengakhiri karirnya di Spanyol.

Kedua anaknya, Thiago Alcantara dan Rafinha Alcantara merupakan salah satu talenta terbaik saat ini. Thiago Alcantara yang merupakan jebolan La Masia diproyeksikan untuk menggantikan Xavi sebelum akhirnya pindah ke Bayern Munchen. Sedangkan sang adik, Rafinha sampai sekarang masih bermain di Barcelona.

Yang unik dari kedua anak Mazinho ini adalah mereka berdua bermain di Timnas berbeda. Thiago Alcatantara memilih untuk bermain di Timnas Spanyol sedangkan Rafinha memilih untuk bermain di Brasil.

2. Jean Djorkaeff dan Youri Djorkaeff


​Sang ayah, Jean Djorkaeff menghabiskan sebagian besar karirnya di liga Prancis dan sudah bermain di 500 pertandingan lebih bersama Lyon, Marseille, dan PSG. Jean juga merupakan anggota skuat Prancis di Piala Dunia Inggris 1966.

Karir Youri Djorkaeff lebih mentereng karena dia membawa Prancis juara Piala Dunia Prancis 1998 dan Euro 2000. Selain itu di tingkat klub dia bisa membawa klubnya, PSG dan Inter Milan menjuarai UEFA Cup.

1. Danny Blind dan Daley Blind


​Danny Blind merupakan salah satu pemain tersukses Ajax Amsterdam. Bersama Ajax dia mengumpulkan 17 trofi juara. Ia juga sudah bermain sebanyak 42 kali untuk Timnas Belanda. Sayangnya dia tidak turut dalam skuat Belanda ketika mereka menjuarai Euro 1988.

Daley Blind juga memiliki karier yang terhitung sukses seperti ayahnya. Dia sudah mengumpuklan empat trofi untuk Ajax. Selain itu dia juga merupakan bagian dari skuat Belanda ketika mereka meraih posisi ketiga di Piala Dunia Brasil 2014. Sekarang Daley Blind bermain di Manchester United.

Sekian dan Kunjungi terus FTS90

Rabu, 06 April 2016

7 Momen Paling Mengharukan Dalam Sepak Bola

Dalam sepakbola momen mengharukan sudah sering terjadi. Seperti pada pertandingan final suatu kompetisi, pasti ada saja momen yang bisa dibilang mengharukan.
Sederet kisah lain yang bertabur sportivitas, kejujuran, fair play ataupun solidaritas pun telah tertulis dengan indah dalam buku sejarah.
Berikut adalah 7 Momen Paling Mengharukan Dalam Sepak Bola versi FTS90.


1.) Kembalinya Muamba Dari Kematian



Pada 17 Maret 2012, mereka yang menyaksikan laga antara Tottenham Hotspurs melawan Bolton Wonderers pada kompetisi Piala FA dikejutkan dengan suatu kejadian.
Di tengah laga, gelandang Bolton itu jatuh tak sadarkan diri dan jantungnya bahkan berhenti selama 78 menit.
Mungkin mereka beranggapan bahwa pemain Bolton yang jatuh tak sadarkan diri ditengah laga, yakni Fabrice Muamba kolaps, merasa keberhasilannya bertahan hidup bagi Muamba sebagai suatu keajaiban.
Muamba terselamatkan berkat peran besar staf medis Tottenham dan seorang spesialis jantung yang kebetulan sedang menonton di tribun.
Ketika diumumkan bahwa Muamba sudah sembuh pada 16 April, publik sepak bola pun merasa lega.
Pada 2 Mei, Muamba kembali ke Reebok Stadium untuk menyaksikan pertandingan Bolton melawan Tottenham. Dia masuk ke lapangan sebelum kick-off dan mendapatkan sambutan hangat dari semua penonton di arena saat itu.

2.) Trofi European Cup Untuk Korban Munich Air Disaster



Setelah satu dekade kejadian Munich Air Disaster yang memakan nyawa tujuh pemain, Manchester United berhasil meraih trofi paling bergengsi di Eropa.
Matt Busby, salah satu manajer dengan masa pengabdian terlama di United dan korban selamat dalam tragedi tersebut, sukses membuat The Red Devils kembali bangkit.
Saat mengangkat trofi European Cup pada tahun 1968, Matt Busby tak bisa melupakan para pemain yang sudah pergi mendahuluinya pada kejadian itu.
Trofi tersebut menjadi sebuah bentuk penghargaan yang sangat spesial bagi mereka para korban Munich Air Disaster.

3.) Kahn dan Canizares



Ketika Bayern Munich menjuarai Liga Champions 2001, tercipta sebuah momen spesial yang bisa dibilang mengharukan.
Setelah mengalahkan Valencia melalui adu penalti pada partai final di San Siro, para pemain Bayern merayakan keberhasilan mereka setelah berhasil menjadi juara. Tetapi, kiper Bayern Oliver Kahn melakukan hal yang berbeda.
Saat rekan-rekannya tengah bersenang-senang dengan kemenangan tersebut, Kahn, yang dikenal sebagai kiper yang keras dan tanpa kompromi di atas lapangan, justru berjalan ke arah Santiago Canizares. Kahn mencoba menenangkan kiper Valencia itu, yang terlihat sangat terpukul karena tidak bisa membawa timnya meraih kemenangan dalam laga final tersebut.
Moment of sympathy tersebut membuat Kahn menerima fair play award dari UEFA, trofi yang dengan bangga ia simpan sebagai bagian dari semua koleksinya.

4.) Bersatunya Athletic Bilbao dan Real Sociedad



Athletic Bilbao dan Real Sociedad memiliki sejarah rivalitas yang panjang.
Dua klub Basque itu selalu bersaing sengit demi menjadi yang terbaik. Namun, pada tahun 1976, mereka bersatu demi satu tujuan yang sama, sebuah kebebasan.
Saat itu, Spanyol masih diselimuti mendung bernama fasisme. Berbicara memakai bahasa Basque atau Catalan, bahkan mengibarkan bendera dua wilayah tersebut, adalah sesuatu yang ilegal.
Akan tetapi, itulah yang dilakukan oleh para pemain Bilbao dan Sociedad dalam pertemuan pertama mereka di musim 1976/77 silam. Mereka masuk ke lapangan dengan bendera Basque dan mendapatkan sambutan meriah serta mengharukan dari seluruh penonton yang hadir di stadion.

5.) Jersey Di Stefano Untuk Eusebio



Pada laga final European Cup 1962, Benfica berhasil meraih kemenangan mengesankan 5-3 atas Real Madrid.
Ketika laga berjalan, Real Madrid sempat unggul 3-2, tetapi dua gol sensasional youngster Eusebio berhasil memutarbalikkan keadaan dan membawa Benfica ke tangga juara.
Ketika laga berakhir, Alfredo Di Stefano memberikan jersey-nya kepada Eusobio, sebuah bentuk pengakuan terhadap sang calon bintang.

6.) Dari Iniesta Untuk Jarque



Setelah mencetak gol kemenangan Spanyol atas Belanda pada laga final Piala Dunia 2010, Andres Iniesta melakukan sebuah selebrasi yang tak terlupakan.
Gelandang La Furia Roja itu melepas jersey-nya untuk menunjukkan pesan yang berbunyi "Dani Jarque: siempre con nosotros" atau "Dani Jarque: selalu bersama kami."
Dani Jarque adalah teman baik Iniesta dan kapten Espanyol, rival sekota dari Barcelona, yang meninggal dunia akibat serangan jantung saat mengikuti pramusim pada tahun 2009.
Ketika Barcelona bertandang ke markas Espanyol, para suporter tuan rumah pun sampai mengesampingkan rivalitas demi memberi standing ovation untuk Iniesta.

7.) Eduardo Kembali Cetak Gol



Cedera patah kaki yang menimpa Eduardo pada Februari 2008 sempat diyakini bakal memaksanya untuk mundur dari sepak bola.
Tetapi, hampir setahun berselang, forward Arsenal itu mengakhiri penantian panjangnya dengan kembali ke skuad The Gunners untuk laga Piala FA melawan Cardiff City.
Comeback itu ditandai Eduardo dengan mencetak satu gol pada menit ke-20, sebuah gol yang membuat dia dan para suporter Arsenal diliputi suasana emosional.

Itulah 7 Momen Paling Mengharukan Dalam Sepak Bolaversi FTS90.
Sekian & Terima Kasih

Baca Juga :

Kamis, 31 Maret 2016

7 Perseteruan Pelatih Top Eropa Paling Terkenal

Pelatih merupakan seorang peracik strategi untuk membawa tim yang diasuhnya bisa meraih berbagai trofi .Sejatinya sosok pelatih merupakan sosok yang menjadi panutan bagi semua anak buahnya di lapangan.Tetapi bagaimana kalau sosok yang menjadi panutan tersebut pernah berseteru dengan pelatih lain.  Perseteruan ini biasanya disebabkan karena tim yang diasuhnya memiliki rivalitas yang sengit. Siapa sajakah pelatih tersebut ?, berikut adalah 7 perseteruan pelatih top eropa paling terkenal.

1. Arsene Wenger vs Jose Mourinho

Perseteruan klasik ini selalu terjadi setiap kali Arsenal dan Chelsea berhadapan diatas lapangan dan 2 pelatih ini tidak pernah bertatapan mata karena keduanya menggunakan filosofi sepakbola yang sangat berbeda. Mourinho selalu mengkritik Arsene Wenger dan melontarkan pernyataan seperti ‘Dia adalah tukang intip dari Inggris'.

Dia adalah seseorang yang suka menonton orang lain dan spesialis kegagalan”. Lalu fans Arsenal mengejek Chelsea adalah klub yang membosankan namun Mou membalas, “Hal yang paling membosankan adalah berjuang 10 tahun tanpa mendapatkan gelar”. Perseteruan diantara keduanya selalu menjadi santapan pers.


2. Sir Alex Ferguson vs Kenny Dalglish


Perseteruan antara kedua pelatih asal Skotlandia ini berlangsung selama 30 tahun dan awalnya dimulai ketika keduanya bertemu dalam pertandingan Celtic melawan Rangers. Dilihat dari karir kepelatihan keduanya, pasti mereka merupakan pelatih terhormat di dunia sepakbola namun yang mendasari ini semua adalah persaingan sengit dan keinginan untuk saling berada diatas.

3. Jose Mourinho vs Pep Guardiola


Rivalitas Jose Mourinho ternyata tak hanya dengan Wenger saja. Namun juga dengan mantan manajer Barcelona, Pep Guardiola. Kala Mourinho menjadi manajer Real Madrid, kerap kali memancing emosi Guardiola. Akhirnya, emosi Guardiola pun terpancing dan secara terang-terangan mengungkapkan enggan bersaing dengan Mourinho.
“Di ruangan ini (media centre Real Madrid), Mourinho bosnya, orang yang br*ngs*k. Saya di sini tidak bisa berkompetisi dengannya. Jika Barcelona ingin berkompetisi dengannya, mereka harus mencari pelatih baru,” ucap Pelatih yang saat ini mengasuh bayern munchen.

4. Sir Alex Ferguson vs Rafael Benitez


Sebuah perseteruan sengit lahir ketika Liverpool diasuh Benitez dan menjadi penantang gelar. Kesemua ini dimulai pada tahun 2009, ketika Benitez mengatakan kata-kata kasar yang mengesankan dimana ia membuat ‘fakta’ seputar Fergie bahwa dirinya adalah satu-satunya pelatih yang tidak bisa dihukum. Ferguson saat itu menjawab, “Benitez adalah pria yang suka marah”. Keduanya sempat berseteru sengit selama bertahun-tahun sebelum Benitez hengkang dari Liga Premier. 

5. Sir Alex Ferguson vs Arsene Wenger




Selama bertahun-tahun, Manchester United dan Arsenal selalu mendominasi sepakbola Inggris dan hal inilah yang memicu persaingan sengit diantara kedua pelatih tersebut. Sir Alex Ferguson langsung mengatakan kepada pers ketika melihat Wenger melatih Arsenal pada tahun 1996 seperti “Mereka mengatakan dia (Wenger) adalah orang cerdas, bukan?

Berbicara dalam 5 bahasa? Saya punya anak umur 15 tahun yang berasal dari Pantai Gading yang bisa berbicara 5 bahasa”. Hubungan dingin tersebut berubah menjadi es ketika Inggris dikejutkan dengan rekor tak terkalahkan Arsenal dan hal ini membuat pelatih dan pemain bentrok di terowongan, sebuah pizza dilemparkan ke arah Cesc Fabregas yang diduga dilempar oleh Fergie. Fergie mengatakan kepada wartawan bahwa Wenger adalah ‘aib’.



6. Jose Mourinho vs Frank Rijkaard


Kali ini Mourinho berseteru dengan manajer Barcelona kala itu yakni Frank Rijkaard. Perseteruan keduanya terjadi pada saat ajang Liga Champions 2005 silam. Mourinho yang menjadi pelatih Chelsea kala itu tak terima dengan keputusan wasit yang memimpin pada leg pertama pertandingan.

Bahkan Mourinho mengucapkan kalimat provokasi yang memicu emosi pelatih Barca tersebut. Pada leg kedua, Barca harus kalah dari Chelsea sehingga agregat pun menjadi 5-4 untuk kemenangan Chelsea. Selesai pertandingan, Rijkaard pun meluapkan kekesalannya kala menuju ruang ganti stadion. 


7. Billy Davies VS Nigel Clough



Meski saling meremehkan satu sama lain selama bertahun-tahun, perseteruan antara Billy Davies dan Nigel Clough terlihat sangat nyata dan Clough mengakui, “Kami memiliki perseteruan selama bertahun-tahun”. Perseteruan yang paling menonjol terjadi di Derby Midlands antara Derby dan Nottingham Forest beberapa musim lalu, ketika Derby (dikelola oleh Clough) berhasil menghentikan rekor tak terkalahkan Forest. Sebuah perseteruan jarak dekat terjadi menjelang akhir pertandingan yang melibatkan pemain dan pelatih.


Sekian dan kunjungi terus FTS90

Rabu, 30 Maret 2016

7 Alasan Kekalahan Yang Aneh Dalam Sepakbola

7 Alasan Kekalahan Yang Aneh Dalam Sepakbola

Dalam permainan sepakbola, kalah dan menang adalah hal yang biasa. Tetapi target semua tim dalam suatu pertandingan adalah untuk meraih kemenangan. Dan tim yang kalah biasanya mencari alasan agar tidak terlalu menanggung rasa malu atas kekalahan itu. Namun biasanya alasan dari kekalahan itu tidak masuk akal, seperti karena bola yang terlalu ringan dan sebagainya.
Berikut 7 Alasan Kekalahan Yang Aneh Dalam Sepakbola versi FTS90.

1.) Bola


Diawali dari alasan kekalahan karena bola. Bola memang sering dijadikan sebagai alasan dari kekalahan suatu tim, biasanya alasannya adalah karena bola terlalu ringan sehingga mudah untuk mengikuti arah angin, dan ada juga yang beralasan bola terlalu kempes dan sebagainya.
Hal itu terjadi saat New Castle yang bermain imbang melawan tim papan bawah, Stevenage di Piala FA tahun 1998, manager dari New Castle saat itu, Kenny Daglish beralasan bahwa timnya ditahan imbang karena bola yang digunakan terlalu memantul.


2.) Injury Time


Perpanjangan waktu atau injury time juga sering menjadi alasan kekalahan oleh suatu tim. Karena pada perpanjangan waktu wasit sering kali terlambat atau terlalu lama dalam meniup peluit berakhirnya pertandingan.
Kontroversi injury time yang paling diingat adalah saat derby Manchester yang digelar di Old Trafford. Saat itu pertandingan berjalan dengan skor 3-3 yang bertahan sampai akhir waktu normal dan wasit pun memberi tambahan waktu empat menit. Hal yang menjadi kontroversi adalah gol penentu kemenangan United yang dicetak oleh Michael Owen pada menit ke 96, kemudian hal tersebut menimbulkan banyak kegusaran di kubu Manchester City.


3.) Kostum


Masalah kostum pernah menjadi alasan Manchester United yang kalah dari tim papan bawah, yaitu Southampton. Pada tahun 1996, United kalah dari Southampton dengan skor 3-0 pada babak pertama.
Alasan United dari hasil buruk itu adalah karena mereka tidak bisa melihat satu sama lain, dan United menyatakan bahwa kostum tandang mereka yang berwarna abu-abu membuat para pemainnya tidak bisa bermain kompak. Akhirnya di babak kedua, United mengganti kostumnya dan United tetap kalah dengan skor 3-1.


4.) Katak yang mengganggu


Pada Piala Dunia 2006 di Jerman, Ukraina kalah sst melawan Spanyol dengan skor 4-0. Bek Ukraina, Vladislav Vashchuk meberi alasan bahwa rekan-rekannya mengalami sulit tidur karena pada malam hari sebelum pertandingan, mereka diganggu dengan suara katak dari luar hotel timnas Ukraina yang berada di Potsdam, Jerman. “Karena suara katak yang berkoak-koak kami sulit tidur. Kami semua setuju jika kami akan memburu semua katak itu”, ungkap bek Ukraina tersebut.


5.) Sepatu


Alasan karena sepatu dilakukan oleh Italia yang hanya mampu bermain imbang 0-0 melawan Denmark pada Euro 2004. Francesco Totti menyalahkan sepatu yang dipakainya : “Kaki Anda seperti berada di atas pasir mendidih”. Christian Panucci menyalahkan kaos kakinya : “Benang dari kaos kaki ini terlalu kasar”. Tak ketinggalan Gennaro Gattuso mengatakan : “Kaki saya hancur”.
Alessandro Nesta pun perlu mengalihkan komplain dari skuat Italia dengan mengatakan : “Mereka menganggap kami konyol. Kenyataannya Totti begitu hebat, hingga ia bisa bermain dengan tanpa alas kaki”.


6.) Lapangan


Tottenham menjadikan Stadion Wembley sebagai alasan atas kekalahannya. Sejak tahun 2007 stadion ini dibuka, lapangan sudah ditata ulang sebanyak sepuluh kali. Statistik membuktikan bahwa lapangan ada masalah. Semuanya jelas saat semi final Piala Fa digelar di stadion tersebut, banyak pemain yang tergelincir di atas lapangan. Dan secara mengejutka Portsmouth mengalahkan Tottenham dengan skor 2-0, hal itu membuat Tottenham menjadikan kondisi lapangan sebagai alasan.


7.) Game


Terakhir adalah kiper kawakan Inggris David James yang menjadikan game Fifa sebagai alasan saat ia tampil buruk. David James sering menjadi kiper andalan untuk timnya, namun saat tampil buruk, James memberi alasan karena ia terlalu banyak bermain Play Station. Mantan kiper Liverpool ini mengatakan bahwa saat ia bermain game FIFA mempengaruhi permainannya di atas lapangan.

Itulah 7 Alasan Kekalahan Yang Aneh Dalam Sepakbola versi FTS90.

Sekian & Terima Kasih.

Senin, 28 Maret 2016

7 Larangan Unik Yang Diberikan Oleh Pelatih Untuk Para Pemain

Pelatih merupakan seseorang yang semua perintah yang diucapkannya harus dituruti oleh para pemain. Tidak jarang juga pelatih memberikan suatu larangan yang harus dituruti oleh anak buahnya. Tetapi bagaimana jika larangan tersebut adalah suatu larangan yang bisa dikatakan cukup unik. lantas larangan apa saja yang diberikan ?
Berikut 7 Larangan Unik Yang Diberikan Oleh Pelatih Untuk Para Pemain

1. Sir Alex Ferguson - Melarang Sepatu Berwarna


Ferguson terkenal sebagai pelatih yang sangat disiplin. Tak heran jika banyak aturan serta larangan yang diterapkannya selama melatih MU.
Layaknya di sekolah, Fergie hanya ingin anak-anak asuhnya memakai sepatu hitam. Mantan bek MU, John O'Shea pernah mengungkap cerita ini.

"Dia melarang di skuad muda. Ferguson mengatakan mereka harus memakai sepatu hitam. Sedangkan di tim cadangan dan utama tidak ada larangan. Namun jika memakai sepatu berwarna dan bermain buruk, maka kami akan dikucilkan," Jelas mantan pemain MU tersebut.

2. Pep Guardiola - Melarang mobil mewah di Barcelona



Ketika di masih mengasuh Barcelona, Guardiola menerapkan aturan yang cukup unik. Dia melarang para punggawa Barcelona membawa mobil mewah ke tempat latihan.

Aturan Guardiola itu sempat ditentang oleh Zlatan Ibrahimovic. "Itu konyol. Tak ada urusannya orang lain dengan mobil saya," kata Ibra menentang pelatihnya di musim 2009 itu.

3. Neil Lennon - Melarang topi Kupluk di Bolton


 
Pelatih yang pernah sukses membawa Glasgow Celtics tiga kali juara di Skotlandia itu membuat aturan aneh ketika baru bergabung ke Bolton Wanderers pada 2014 lalu. Dia melarang para pemain mengenakan beanie hats atau topi kupluk yang berguna untuk menghangatkan badan ketika berlatih.

"Saya tak mau melihat pemain memakai topi karena tak ada pemain yang tampil dengan topi. Jika ingin hangat, maka mereka harus terus berlari," ungkap Lennon yang malah mengenakan kupluk saat memimpin latihan.

4. Arsene Wenger - Kostum Yang Sama Dengan Kapten


Ada aturan sedikit aneh di Arsenal. Wenger selaku pelatih meminta seluruh pemain mengenakan kostum yang sama (lengan panjang atau pendek) seperti sang kapten di hari pertandingan.

Namun Mathieu Flamini beberapa kali melanggar aturan itu. Tidak nyaman dengan kostum lengan panjang, dia memotongnya dengan gunting saat tampil membela The Gunners di 2013 silam. Kontan aksinya mengundang amarah Wenger. "Saya tak suka itu dan saya pastikan dia tidak akan melakukannya lagi," ketus The Professor.

5. Paulo Di Canio - Melarang segala hal di Sunderland


Sempat menangani Sunderland pada 2013, Di Canio melakukan revolusi besar-besaran. Tak hanya saat di lapangan, namun juga di luar.

Dia melarang banyak hal mulai dari penggunaan telepon genggam, minum kopi, makan mayonaise, kecap dan minuman dingin. Belum cukup, pria asal Italia itu juga meminta pemainnya tidak membuat lelucon, bergosip dan menyanyi saat mandi.

6. Giovanni Trapattonni - melarang pemain makan jamur


Mr Trap melarang pemainnya memakan jamur jelang pertandingan. Dia yakin kalau makanan tersebut bisa membuat anak-anak asuhnya sakit perut.

7. David Moyes - Melarang pemain MU makan keripik kentang


David Moyes sukses mengubah tradisi Manchester United ketika menjadi pelatih di Old Traffrd. Dia meniadakan kebiasaan makan keripik kentang pada malam jelang pertandingan.

Pria asal Skotlandia itu beralasan, keripik kentang telah menyebabkan para pemainnya kelebihan berat badan. Tindakan Moyes itu pun sempat ditentang oleh anak-anak asuhnya, termasuk pemain senior Rio Ferdinand.

Sekian dan Kunjungi Terus FTS90

Minggu, 20 Maret 2016

10 Pemain Top Yang Gagal Jadi Pelatih Hebat

Kebanyakan pesepakbola setelah pensiun akan meneruskan karir sepakbolanya sebagai pelatih. Seperti inzaghi, Zidane, Gary Neville merupakan sosok yang hebat dikala masih aktif sebagai pesepakbola. Tapi saat menjabat sebagai pelatih ada banyak pemain top tidak bisa menularkan kehebatannya sebagaimana kehebatannya saat masih aktif sebagai pesepakbola. Siapa sajakah Mereka ? berikut ulasannya.

1. Diego Maradona


Legenda Argentina yang satu ini dianggap pemain terbaik dunia yang pernah ada. Dia sukses memimpin Napoli dua kali juara Serie A dan Piala UEFA. Selain itu, Maradona juga jadi motor Argentina kala juara Piala Dunia 1986.

Tapi suksesnya itu tidak menular saat dia menjadi pelatih timnas Argentina. Maradona menjadi 'kambing hitam' kekalahan memalukan Argentina kala dilumat Jerman 0-4 di Piala Dunia 2010.

Maradona mencoba peruntungan dengan melanjutkan karier ke Uni Emirat Arab (UEA). Tapi di sana pun dia tidak bertahan lama karena gagal membawa klub asuhannya Al Wasl meraih hasil positif.

2. Roy Keane


12 tahun membela Manchester United, Keane meraih tujuh gelar Premier League dan satu trofi Liga Champions. Tapi kariernya sebagai pelatih tidak bersinar seperti saat dia masih menjadi pemain.

Dia hanya bertahan kurang dari dua musim saat melatih Sunderland. Situasi yang sama juga dia alami ketika melatih Ipscwih Town. Dia juga pernah hanya menjadi asisten pelatih di Aston Villa dan timnas Republik Irlandia. 

3. Ruud Gullit


Gullit merupakan bagian penting dari masa keemasan AC Milan pada era 1990-an saat masih aktif sebagai pemain. Dan kariernya sebagai pelatih sempat diprediksi akan bersinar setelah dia sukses membawa Chelsea juara Piala FA 1997.

Namun sikap tempramentalnya membuat dia kerap tidak bertahan lama saat melatih klub. Salah satunya kala dia melatih Newcastle United dan kerap bersitegang dengan pemain ikon klub, Alan Shearer.

4. Paul Gascoigne


Di tengah kontroversi yang kerap diciptakannya, tak bisa disangkal kalau Gascoigne merupakan salah satu striker terbaik Inggris yang pernah ada. Dia membawa klub yang dibelanya dengan berbagai prestasi.

Tapi ketika memulai karier sebagai pelatih dengan membesut Kettering Town, dia hanya bertahan selama 40 hari karena kebiasaan buruknya terkait kegemarannya mengkonsumsi minuman beralkohol.

5. Marco van Basten


Marco Van Basten sukses memenangi tiga trofi juara Eredivisie bersama Ajax Amsterdam, meraih empat gelar juara Serie A dan tiga trofi Liga Champions bersama AC Milan. Dia juga jadi kunci sukses Belanda juara Piala Eropa 1988.

Namun dia tidak pernah memenangi apapun saat menjadi pelatih. Dia hanya mampu membawa Belanda ke babak kedua Piala Dunia 2006 dan perempatfinal Piala Eropa 2008. 

6. Alan Shearer


Pencetak gol terbanyak Premier League (260 gol) dan masuk daftar 100 legenda persepakbola yang dirilis FIFA menjadi bukti kehebatan Shearer saat masih menjadi pemain. Namun karier kepelatihannya hanya bertahan delapan laga.

Shearer mendapat kepercayaan menyelamatkan Newcastle United dari zona degradasi yang mengintai di akhir musim 2009, dengan hanya delapan laga tersisa. Namun Shearer gagal menjalankan tugasnya. Newcastle terdegradasi setelah hanya meraup lima poin dari maksimal 24 poin

Shearer saat ini lebih memilih menjadi komentator dan analis di BBC.

7. Hristo Stoichkov


Dia menjadi topskor Piala Dunia 1994 dan sukses membawa Bulgaria melaju ke semifinal. Di tingkat klub, dia sukses membawa Barcelona meraih lima gelar juara La Liga dan satu trofi Piala Champions.

Namun, saat melatih, dia gagal melanjutkan aksi gemilangnya seperti saat menjadi pemain. Dia gagal membawa Bulgaria lolos ke Piala Dunia 2006 Piala Eropa 2008. Tugas terakhirnya hanya bertahan satu bulan saat di CSKA Sofia.

8. Lothar Matthaus


Saat masih menjadi pemain, Matthaus meraih delapan gelar juara Bundesliga, satu scudetto Serie A dan dua trofi Liga Europa serta trofi Piala Dunia 1990. Namun, dia tidak pernah mendapat tawaran melatih di Bundesliga.

Dia hanya melatih klub-klub kecil Eropa seperti Rapid Wien, Atletico Paranaense, Partizan Belgrade hingga Red Bull Salzburg. Dan dia tidak pernah bisa membawa klub yang diasuhnya menjadi juara.

9. Tony Adams


Adams sukses membawa Arsenal meraih empat trofi Liga Inggris dan tiga trofi Piala FA saat masih menjadi pemain. Namun karier gemilangnya itu tidak berlanjut ketika dia mencoba peruntungan sebagai pelatih.

Adams hanya bertahan di klub pertama yang dia asuhnya, Wycombe yang terdegradasi. Nasib sial Adams berlanjut kala melatih Portsmouth. Dia hanya mampu bertahan empat bulan karena rangkaian hasil buruk yang diterima.

10. Bobby Charlton



Karier yang luar biasa dijalani Charlton bersama Manchester United dan timnas Inggris saat masih berstatus sebagai pemain. Dia pun dianggap salah satu pemain terbaik yang pernah lahir di Inggris.

Tapi, Charlton gagal melanjutkan kegemilangannya kala menjadi pelatih Preston North End. Klub yang diasuhnya terdegradasi dan membuatnya hanya bertahan selama semusim di klub tersebut.

Sekian dan kunjungi terus FTS90, dan jangan lupa tinggalkan komentar

Rabu, 16 Maret 2016

5 Kebetulan Unik Dalam Sepakbola

5 Kebetulan Unik Dalam Sepakbola

Kebetulan merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam dunia ini dan biasanya diabaikan oleh banyak orang. Karena itu semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Namun kebetulan yang unik akan menarik minat banyak orang untuk mengetahui hal tersebut. Seperti saya saat berminat menulis artikel ini. Kebetulan Unik juga terjadi dalam dunia sepak bola, seperti Kematian Tokoh Dunia Setelah Ramsey mencetak gol yang ada di artikel sebelumnya yaitu Kutukan Yang Terjadi Dalam Sepakbola.
Berikut FTS90 akan mengulas tentang 5 Kebetulan Unik Dalam Sepakbola versi FTS90.

1.)Ronald Waterreus Vs Nick Colgan ( selalu berakhir 7-1 )

 

Ronald Waterreus mengawali debutnya bagi Manchester City pada September 2004 ketika melawan Barnsley diajang Piala Liga. Saat itu City berhasil menang dengan skor telak 7-1, dan pada saat itu kiper dari Barnsley adalah Nick Colgan.
Beberapa bulan kemudian Ronald Waterreus pindah ke Glasgow Rangers, sedangkan Nick Colgan pindah ke Dundee United. Saat Waterreus mengawali debut bersama tim barunya yaitu Ranger pada Februari 2005 melawan Dundee United di Piala Liga. Rangers berhasil mengalahkan Dundee United dengan skor 7-1, dan saat itu kiper dari Dundee United adalah Nick Colgan.
Merupakan hal yang aneh saat pertandingan debut pertama Waterreus saat bertemu Nick Colgan selalu berakhir 7-1.

2.) Cristiano Ronaldo & Lionel Messi ( Terpaut 869 hari )


Diawali dari Cristiano Ronaldo & Lionel Messi. Rivalitas antara kedua pemain ini terjadi tidak hanya di lapangan namun berlanjut sampai ke urusan keturunan. Bak sudah suratan takdir, kedua pemain ini memiliki kebetulan yang unik.
Dengan usia yang berjarak 869 hari dengan Messi, Ronaldo sempat mengumumkan bahwa anak yang diberi nama Cristiano Ronaldo Jr pada Juli 2010. Dan seolah tak mau kalah, Messi juga mempunyai anak yang diberi nama Thiago Messi, yang lahir 869 setelah kelahiran Cristiano Ronaldo Jr.
Dan apakah keturunan dari keduanya akan memiliki kebetulan yang sama? Tunggu saja.



3.) Timnas Italia ( terjadwal dalam meraih gelar Piala Dunia )


Ini merupakan kebetulan yang paling unik dalam sepakbola. Bagaimana tidak, Italia berhasil mencapai final Piala Dunia setiap 12 tahun dan menjuarainya setiap 24 tahun.
Terbukti Italia menjadi runner-up di edisi 1970, Italia kemudian menjadi juara pada 1982, kemudian dilanjut ke posisi kedua pada 1994, dan kembali menang pada 2006. Gelar dan runner-up berikutnya mungkin terjadi pada 2018 dan 2030? Kita tunggu saja.


4.) Hans-Jorg Butt vs. Juventus ( kiper yang mencetak gol ke gawang Juventus )


Kiper ini mungkin sangat bernafsu ketika bertanding melawan raksasa Italia, Juventus.
Terbukti saat pemain asal Jerman ini bertanding melawan Juventus dan mampu membobol gawang Juventus sebanyak tiga kali lewat tendangan penalti. Hal tersebut ia lakukan saat bergabung tiga klub yang berbeda, yaitu Hamburg, Bayer Leverkusen dan Bayern Munich.
Namun, ia sekarang sudah gantung sepatu, dan Juventus boleh merasa tenang karena takkan ada kiper lain yang bernafsu untuk memjebol gawang mereka setidaknya sampai sekarang ini.

 5.) Trebel Winner Manchester United & Ulang Tahun Sir Matt Busby ( hari yang sama )


Terakhir adalah tentang Trebel Winner Manchester United & Ulang Tahun Sir Matt Busby. Ulang tahun mantan pelatih Manchester United yaitu Sir Matt Busby  yang ke-90 rupanya benar-benar menginspirasi skuat The Red Devils yang saat itu masih dilatih oleh Sir Alex Ferguson.
Setelah meraih gelar Liga Primer dan Piala FA pada musim 1998/99, United bertanding dengan  Bayern Munchen di final Liga Champions yang saat itu digelar di Cam Nou. Di laga tersebut, mereka sempat tertinggal 1-0 hingga extra time. Magis! Gol dari Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer pada menit ke 90+1 dan 90+3 berhasil membawa The Red Devils meraih trofi si kuping besar itu untuk kedua kalinya, sekaligus memastikan treble tepat di saat Sir Matt berulang tahun.

Itulah tadi 5 Kebetulan Unik Dalam Sepakbola FTS90


Sekian dan Silahkan tinggalkan komentar.