Jumat, 22 April 2016

Sejarah Nama Stadion Klub Raksasa Eropa

Stadion merupakan markas bagi setiap klub untuk untuk bertanding. Dalam bertanding di kandang sendiri para pemain akan termotivasi untuk meraih kemenangan karena didukung oleh para fans. Stadion juga mempunyai nama, tak jarang stadion diberi nama dengan nama sponsor klub tersebut, seperti Emirates Stadium milik Arsenal dan Etihad Stadium milik Manchester City.

1.) Chelsea


Stadion milik Chelsea dari mulai dibangun sampai sekarang, tahun 2016, masih bernama tetap, yakni; Stamford Bridge Stadium. Suporter Chelsea sangat bangga terhadap hal tersebut, mereka mengejek Arsenal yang harus membuat stadion baru sampai-sampai Arsenal harus menjual para pemain pentingnya demi mendanai pembangunan Emirates Stadium. Stadion Stamford Bridge pada awalnya berkapasitas sampai 100.000 kursi.

Stamford Bridge didesain oleh arsitek yang sama yang membuat Stadion Ibrox kandang Glasgow Rangers, Celtic Park kandang Glasgow Celtic dan Hampden Park kandang Tim Nasional Skotlandia yakni, arsitek Archibald Leitch.

Kebanyakan klub sepakbola didirikan lebih dahulu baru kemudian mencari stadion untuk bermain, namun didirikannya Chelsea semata agar ada yang bermain di Stadion Stamford Bridge. Karena berbagai alasan keamanan kapasitas stadion terus dikurangi hingga pada 2013 hanya menjadi 42.000 kursi.

2.) Manchester United


Old Trafford adalah sebuah stadion sepak bola yang bertempat di Old Trafford, Greater Manchester, Inggris, dan merupakan markas klub dari Manchester United. Dengan kapasitas 75.635 kursi, stadion ini merupakan stadion terbesar ketiga dan stadion sepak bola terbesar kedua di Inggris, serta stadion kesebelas terbesar di Eropa.

Old Trafford yang dijuluki "The Theater of Dreams" oleh Sir Bobby Charlton, stadion ini sudah menjadi markas United sejak 1910, walaupun sejak 1941 hingga 1949, klub berbagi Maine Road dengan rival lokal Manchester City setelah kerusakan akibat pengeboman pada Perang Dunia II.

Old Trafford mengalami beberapa kali perluasan pada tahun 1990-an dan 2000-an, termasuk penambahan tingkat di Tribun Utara, Barat, dan Timur, yang membuat stadion kembali ke kapasitas aslinya, yaitu 80.000 kursi. Perluasan ke depannya dapat termasuk penambahan tingkat kedua di Tribun Selatan, yang dapat meningkatkan kapasitas menjadi 90.000 kursi. Rekor kehadiran stadion tercatat pada 1939, saat 76.962 orang menghadiri semifinal Piala FA antara Wolverhampton Wanderers dan Grimsby Town.

3.) Barcelona


Stadion Barcelona yakni Camp Nou, didesain oleh arsitek Francesc Mitjans Miró dan Josep Soteras Mauri, yang bekerjasama dengan Lorenzo García Barbón, dan stadion ini dibangun pada tahun 1955 sampai 1957, yang sebagian besar menggunakan baja dan beton. Proyek ini secara keseluruhan memakan biaya yang mengejutkan sebesar 288 juta pesetas, yang berarti klub akan menanggung hutang besar di masa-masa mendatang.

Awalnya akan diberi nama resmi ‘Estadi del FC Barcelona’, stadion ini secara populer dikenal dengan nama 'Camp Nou' (‘lapangan baru’), sebagai kebalikan dari tempat lama klub di Les Corts. Pada musim 2000/2001, setelah dilakukan pemilihan suara melalui pos berdasarkan keanggotaan klub, barulah keputusan dibuat untuk menjadikan ‘Camp Nou’ nama resmi stadion ini. Dari 29.102 suara yang diterima klub, total 19.861 (68,25%) lebih menyukai Camp Nou daripada Estadi del FC Barcelona.

Tinggi maksimum stadion adalah 48 meter, dan meliputi area permukaan 55.000 meter persegi (panjang 250 meter dan lebar 220 meter). Sesuai dengan ketentuan UEFA, area pertandingan telah dikurangi menjadi 105 meter x 68 meter.

Dengan kapasitas 99.354, stadion ini adalah yang terbesar di Eropa saat ini. Namun, total kapasitas berubah sepanjang tahun karena berbagai modifikasi. Ketika stadion ini pertama kali dibuka pada tahun 1957, tempat ini menampung 93.053 penonton, yang bertambah menjadi 120.000 pada tahun 1982 untuk pertandingan Piala Dunia FIFA. Namun, penetapan peraturan baru yang menyatakan bahwa area tribun tidak sah menyebabkan kapasitas stadion dikurangi pada akhir tahun 1990-an menjadi hanya di bawah 99.000.

Pada musim 1998-99, UEFA mengakui layanan dan fungsi-fungsi Camp Nou dengan menganugerahinya status bintang lima. Di seluruh Spanyol, hanya ada empat stadion lainnya yang dapat mengklaim status tersebut, Stadion Lluís Companys Olympic, juga di Barcelona, Stadion Cartuja Olympic yang baru di Seville, Vicente Calderón, rumah bagi Atlético Madrid, dan Santiago Bernabeu, juga di Madrid.

Dari berbagai fasilitas yang ditawarkan di dalam stadion ini, yang perlu dicatat adalah kapel di sebelah ruang ganti pakaian, tribun presiden, ruang VIP, ruang media, beberapa studio televisi, Pusat Medis Olahraga, Unit Kontrol Operatif (UCO), area pemain veteran, museum klub FC Barcelona, dan kantor-kantor dari semua departemen klub yang berbeda.

4.) AC Milan


Stadion kebanggaan dari warga Milan, Giuseppe Meazza, juga dikenal dengan nama San Siro, adalah stadion sepak bola yang bertempat di Milan, Italia. Stadion ini adalah kandang bagi dua tim Liga Italia dari Serie A, yaitu AC Milan dan Internazionale.

Stadion Giuseppe Meazza mulai dibangun oleh Piero Pirelli, presiden AC Milan saat itu, pada 1 Agustus 1925 sampai 15 September 1926 dengan nama Nuovo stadio Calcistico San Siro. Pembangunan tersebut menghabiskan dana sekitar 5 juta lira. Stadion ini dibuka secara resmi pada tanggal 19 September 1926 dengan pertandingan derby antara AC Milan melawan Inter Milan, yang dimenangkan oleh Inter Milan dengan skor 6 - 3.

Pada awalnya Stadion ini adalah Stadion kandang bagi AC Milan, hingga pada tahun 1935 AC Milan mengalami kebangkrutan dan harus menjual stadion tersebut pada Pemerintah kota Milan. Inter Milan kemudian menyewa Stadion ini dari Pemerintah kota Milan pada tahun 1947, sejak saat itu stadion ini digunakan sebagai kandang bagi Inter Milan dan AC Milan. Jauh sebelum menggunakan Stadion Giuseppe Meazza, Inter selalu menggunakan Stadion Arena.

Nama Giuseppe Meazza dipilih sebagai nama Stadion pada 3 Maret 1980 untuk menghormati pemain sepak bola legendaris yang membawa Italia menjuarai Piala Dunia 1934 dan 1938, sekaligus mantan pemain Inter dan Milan. Suporter AC Milan lebih suka menggunakan nama "San Siro" untuk menyebut nama stadion ini, karena Giuseppe Meazza lebih identik sebagai ikon Inter Milan walaupun pernah bermain untuk AC Milan.

Pada tahun 1987 dalam persiapan untuk Piala Dunia pemerintah Italia memberikan dewan kota Milan $30 juta untuk memodernisasikan stadion tersebut, namun akhirnya ongkosnya membengkak dua kali lipat.

Pada tahun 1990, stadion ini menjadi tempat pertandingan final Piala Dunia antara Jerman Barat dan Argentina.

5.) Arsenal


Stadion milik Arsenal sebelum Highbury bernama Manor Ground. Pada awalnya, Manor Ground sendiri sebenarnya hanyalah tanah lapang biasa. Sampai kemudian Dial Square bermain mereka membangun tribun-tribun layaknya stadion untuk memenuhi standar Liga Inggris pada saat itu. Arsenal memakai Manor Ground sampai tahun 1913 seperti dikatakan di atas. Stadion Highbury bernama resmi Highbury Arsenal Stadium.

Stadion Highbury mengalami beberapa renovasi dan peningkatan serta pengurangan kapasitas. Pada awalnya Highbury berkapasitas 57.000 penonton bahkan bisa mencapai 60.000 penonton. Hingga pada tahun 1993 saat Arsenal merenovasi stadion karena kursinya diganti kapasitasnya malah menjadi 38.419 bahkan ketika Arsenal bermain di Liga Champions Eropa kapasitasnya semakin berkurang menjadi hanya 35.000. Itulah sebabnya kalau bermain di Liga Champions Eropa pada saat itu Arsenal memakai Stadion Tim Nasional Inggris yang bernama Stadion Wembley.
Ketika Arsenal ingin merenovasi dan meningkatkan kapasitas stadion Highbury kembali. Hal itu terasa tidak mungkin karena di sekitar stadion sudah padat sehingga kalau stadion diperluas ataupun diperlebar berisiko menggusur penduduk di sekitar stadion dan bisa memicu kemarahan suporter Arsenal sendiri.

Akhirnya pada tahun 2001 Arsenal mengajukan proposal Izin Membangun Bangunan kepada pemerintah London untuk membangun stadion baru yang saat itu direncanakan berkapasitas 60.000 orang. Bulan Juli tahun 2006 selesailah stadion baru tersebut dengan nama Emirates Stadium dinamai sesuai dengan nama sponsor Arsenal musim 2006-2007 dan juga sponsor utama pembangunan stadion tersebut. Emirates Stadium sendiri kini berkapasitas 62.000 penonton. Stadion ini dipakai Arsenal hingga saat ini.

Sekian & Terima Kasih.

Baca Juga :

Senin, 18 April 2016

7 Deretan Super Sub Terhebat

Super-sub, adalah istilah yang diberikan khusus untuk para pemain pengganti yang kerap masuk di tengah-tengah pertandingan, kemudian menyelamatkan tim dari kekalahan, atau bahkan membalikkan keadaan dan membuat timnya memenangkan pertandingan.

Mereka jarang dimainkan sebagai starter, namun tetap mampu tampil memikat walaupun tidak bermain selama 90 menit penuh. 

Berikut deretan Super Sub Terhebat.

1. Javier "Chicharito" Hernandez


Javier Hernandez adalah seorang striker muda asal Meksiko yang kerap menyelamatkan klubnya dari kekalahan.
Kala bermain di Manchester United,walaupun tidak nyaman dengan perannya sebagai seorang super-sub dan menginginkan lebih banyak kesempatan tampil sebagai starter, pemain ini selalu menjadi senjata rahasia Manchester United di saat duet utama saat itu Wayne Rooney dan Robin van Persie, gagal mencetak gol.

Setelah sempat membela Real Madrid,Saat ini Chicharito sudah mendapatkan posisi reguler bersama Bayern Leverkusen dan menjadi top skorer di klubnya tersebut.

2. Michael Owen


Walaupun sempat menikmati posisi sebagai striker nomor satu yang tak tergantikan ketika bermain untuk Liverpool, Michael Owen harus puas dianggap sebagai pemain super-sub di Real Madrid dan Manchester United.

Di Madrid, ia kalah bersaing dengan duet Ronaldo dan Raul Gonzalez. Walaupun demikian, ia berhasil mencetak banyak gol. Di musim 2004-2005, Owen bahkan berhasil mencetak 13 gol, dengan rasio perbandingan antara gol dan jumlah menit bermain paling tinggi di La Liga.

Bersama Manchester United, Owen juga beberapa kali mencetak gol sebagai pemain pengganti, salah satunya adalah gol menit terakhir yang membawa Manchester United mengalahkan Manchester City di musim 2009-2010.

3. Edin Dzeko


Di awal karirnya bersama Manchester City, Dzeko lebih banyak dimainkan sebagai pemain pemain cadangan karena kalah bersaing dengan duet utama, Carlos Tevez dan Sergio Aguero.

Walaupun demikian, ia tetap konsisten mencetak gol walaupun dimainkan sebagai pemain pengganti. 

Dan sekarang Dzeko sedang mengalami penurunan performa bersama Tim ibukota italia, AS Roma.

4. Tore Andre Flo


Jika anda seorang fans Chelsea pasti anda mengagumi sosok satu ini. Tore Andre Flo adalah seorang striker jangkung asal Norwegia yang memiliki keunggulan dalam mencetak gol dengan sundulan kepala.

Ia dibeli dari klub Norwegia, Brann, namun kesulitan mendapat tempat utama sebagai starter karena posisi tersebut sudah dikuasai secara mutlak oleh Gianfranco Zola, Gianluca Vialli, dan Mark Hughes.

Walaupun demikian, Flo masih sering memeberikan kontribusi besar dengan mencetak gol dari bangku cadangan. Dari total 50 gol yang dicetaknya untuk Chelsea, 13 dibuat ketika ia tampil sebagai pemain cadangan.

5. Jermain Defoe


Jermain Defoe memegang rekor sebagai super-sub terbanyak yang mencetak gol di Premier League dan tim nasional Inggris.

Di Premier League, striker ini sudah mencetak lebih dari 20 gol ketika tampil sebagai pemain cadangan. Bersama The Three Lions, Defoe juga menjadi pemain terbanyak yang mencetak gol ketika tampil sebagai pemain pengganti, dengan total tujuh gol.

Walaupun demikian, banyak yang menilai bahwa sebenarnya Defoe cukup kompeten tampil sebagai pemain starter, baik di level klub maupun tim nasional.

6. Nwankwo Kanu



Selama bermain untuk Arsenal dari tahun 1999 hingga 2004, Kanu memang bukanlah striker pilihan pertama coach Arsene Wenger.

Ia lebih banyak tampil sebagai pemain pelapis untuk Dennis Bergkamp, Nicolas Anelka, atau Thierry Henry. Meskipun demikian, Kanu berhasil memanfaatkan setiap menit yang ia miliki dengan baik.

Penampilan terbaiknya sebagai super-sub terjadi dalam pertandingan melawan Chelsea di musim 1999-2000, di mana ia mampu mencetak hattrick dalam waktu 15 menit setelah masuk ke lapangan sebagai seorang pemain pengganti.

Karena kontribusinya yang cukup besar, Kanu sering dianggap sebagai salah satu striker Arsenal terbaik sepanjang masa.

7. Olle Gunnar Solskjaer


Gelar super-sub terbaik dalam sejarah sepakbola tampaknya sangat pantas diberikan kepada Ole Gunnar Solskjaer.

Striker asal Norwegia ini adalah salah satu striker yang paling produktif dalam mencetak gol ketika tampil sebagai pemain pengganti.

Momen paling berkesan yang pernah dibuat oleh Solskjaer adalah saat mencetak gol injury time di final Liga Champions 1998-1999 yang membawa Manchester United menang dengan skor 2-1.

Ia juga pernah mencetak empat gol dalam waktu 19 menit setelah tampil sebagai pemain pengganti dalam pertandingan melawan Nottingham Forest bulan Februari 1999.

Itulah 7 deretan suer sub terhebat versi FTS90, sekian dan kunjungi terus FTS90

Rabu, 13 April 2016

7 Keputusan Wasit Yang Paling Kontroversial Dalam Sepakbola

Terkadang usaha kerja keras saja belum cukup untuk memenangkan sebuah pertandingan. Tentu diperlukan keberuntungan dan faktor lain yang berpengaruh. Keputusan wasit bisa menjadi penentu siapa pemenang pertandingan. Wasit tidak jarang bersikap kontroversial dan dinilai berat sebelah.
Sekalipun wasit utama dibantu oleh 2 orang asisten dan sekarang dibantu oleh 2 wasit garis gawang, tetap saja ia bisa melakukan kesalahan, terlebih lagi jika bertugas dalam sebuah laga yang krusial dan penuh gengsi dan tekanan.
Berikut 7 Keputusan Wasit Yang Paling Kontroversial Dalam Sepakbola versi FTS90

1.) Martin Atkinson
Chelsea vs Manchester United (Premier League 2011)


Jika wasit yang bernama Howard Webb dikenal sebagai salah satu fans atau pendukung dari Manchester United, maka wasit Atkinson diduga kuat merupakan penggemar berat Chelsea. Atkinson bersikap seperti membela kepada The Blues pada pertandingan ini.

2.) Clive Thomas
Brasil vs Swedia (Piala Dunia 1978)  


Saat timnas Swedia secara mengejutkan berhasil menahan imbang Brasil dengan skor 1-1 sampai menjelang menit akhir pertandingan. Dan pada menit-menit akhir pertandingana, Zico berhasil mencetak gol melalui sundulan.
Namun wasit Thomas menganulir gol tersebut, bukan karena Zico melakukan pelanggaran, namun karena Thomas mengakhiri pertandingan saat bola masih berada diudara. Wasit asal Wales itu pun dicerca karena dinilai sangat tidak tepat dalam meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Pertandingan itu berakhir dengan hasil imbang, timnas Swedia pun meraih satu-satunya angka dari Brasil pada kompetisi tersebut.

3.) Ali Bin Nasser
Argentina vs Inggris (Piala Dunia 1986)


Siapa yang tidak ingat dengan sebutan gol tangan tuhan dari Diego Maradona? Tentunya peristiwa historis itu tidak akan bisa dilupakan oleh siapapun, khususnya bagi publik sepakbola Inggris.
Jika Maradona dianggap sebagai pencipta gol tangan tuhan, maka wasit Ali Bin Nasser dicap sebagai pengesah gol tangan tuhan dari Diego Maradona tersebut. Argentina pun lolos ke semifinal karena berhasil mengalahkan Inggris dengan skor 2-1 walaupun dengan sedikit kecurangan. Kedua gol dari Argentina dicetak oleh Maradona. Seandainya wasit asal Tunisia tersebut menganulir gol tangan tuhan dari Maradona, maka belum tentu Argentina menang dan lolos ke semifinal pada saat itu.

4.) Charles Corver
Jerman Barat vs Perancis (Piala Dunia 1982)


Laga super big match terjadi pada semifinal Piala Dunia 1982 yang digelar di Sevilla, Spanyol. Pertandingan tersebut berjalan dengan sangat keras dan sedikit kasar. Kiper Jerman Barat pada pertandingan tersebut, Harald Schumacher bertabrakan dengan bek Perancis, Patrick Battiston.
Namun itu bukan benturan biasa. Dalam tayangan ulang terlihat jelas Schumacher menyikut Battiston hingga mengalami koma. Battiston juga kehilangan 2 gigi depan dan patah tulang belakang. Saat itu perlengkapan medis di lapangan masih sederhana.
Entah melihat atau tidak, wasit yang memimpin laga saat itu, Corver tidak menghukum kiper Jerman Barat itu dengan kartu apapun. Akhirnya Der Panzer memenangkan pertandingan dengan adu penalti dengan skor 5-4 atas Les Bleus. Seandainya saja wasit asal Belanda itu mengusir Schumacher dari lapangan, maka belum tentu Jerman Barat menang dan lolos ke final Piala Dunia 1982.

5.) Graham Poll
Kroasia vs Australia (Piala Dunia 2006)


Mungkin gelar wasit pelupa layak didapat oleh wasit Graham Poll. Ia mengganjar bek Kroasia, Josip Simunic, dengan kartu kuning sebanyak 3 kali sebelum mengusirnya dari lapangan. Wasit asal Inggris itu lupa untuk mengeluarkan Simunic pada hukuman kartu kuning yang kedua.
Uniknya, semua ofisial yang membantu Poll juga tidak menyadari hal tersebut. Akibat kecerobohannya yang memalukan, Poll diberhentikan dari Piala Dunia 2006. Kemudian Poll menyatakan pensiun dari tugas internasional, tapi masih bertugas di liga domestik Inggris.

6.) Marco Rodriguez
Chile vs Spanyol (Piala Dunia 2010)


Salah satu kemampuan terbaik dari Fernando Torres, ditunjukannya pada laga ini. Torres melakukan diving tepat sebelum Andres Iniesta mencetak gol.
Dalam peraturan resmi FIFA, jika wasit melihat sebuah pelanggaran, maka seharusnya pertandingan dihentikan sementara untuk memberikan hukuman bagi pemain yang melanggar.
Namun Rodriguez memberikan keuntungan ganda bagi Spanyol. Ia mengesahkan gol iniesta sekaligus mengganjar pemain Chile, Marco Estrada dengan kartu kuning kedua.

7.) Byron Moreno
Korea Selatan vs Italia (Piala Dunia 2002)


Korea Selatan secara mengejutkan menjadi salah satu kekuatan baru di sepakbola dunia. Tetapi banyak pihak yang menilai bahwa jalan Korsel untuk menuju perempat final, dibantu oleh berbagai wasit termasuk Moreno, ia merupakan wasit yang paling menonjol kontroversinya.
Saat pertandingan Korsel melawan Italia. Beberapa keputusan wasit asal Ekuador itu, sangat menguntungkan bagi tuan rumah dan merugikan bagi Italia. Moreno disinyalir ingin membalaskan dendam karena negaranya dikalahkan oleh Italia 0-2 pada babak grup G Piala Dunia 2002.
Akhirnya Korsel menang 2-1 atas Italia. Impian Paolo Maldini yang ingin pensiun dari Gli Azzurri usai menjuarai Piala Dunia 2002, ternyata harus kandas di babak 16 besar.


Itulah 7 Keputusan Wasit Yang Paling Kontroversial Dalam Sepakbola versi FTS90
Sekian & Terima Kasih.

Baca Juga :

Sabtu, 09 April 2016

7 Kakak Adik Yang Nasibnya Berbeda Di Sepakbola

Di dunia sepakbola kita dapat menjumpai banyak pemain yang memiliki ikatan saudara dengan pemain-pemain lain. Bahkan bisa saja dalam satu tim bisa terdapat pemain yang memiliki ikatan persaudaraan seperti Kolo & Yaya Toure saat di Manchester City, Gary & Phill Neville di Manchester united dan masih banyak pesepakbola lainnya, Tetapi kalau pesepakbola yang memiliki ikatan persaudaraan tersebut malah mempunyai nasib yang bisa dikatakan jauh berbeda, siapa sajakah mereka ?
Berikut 7 Kakak Adik Yang Berbeda Nasib Di Sepakbola

1. Wayne & John Rooney


Mungkin fans sepakbola saat ini hanya tau satu pemain yang bernama Rooney,yaitu Penyerang Man Utd ,Wayne Rooney. Tetapi ternyata Wayne Rooney mempunyai Adik yang bernama John Rooney.  Kedua bersaudara ini mengawali karir Junior di tim yang sama yaitu Everton. Namun, nasib berbeda dialami keduanya. Wayne masuk dalam skuad senior The Toffees, sedangkan sang adik dilempar ke tim yunior Macclesfield Town pada tahun 2002.

John menghabiskan banyak waktu di tim tersebut sebelum akhirnya hijrah ke Mayor League Soccer (MLS) bersama klub New York Red Bulls pada tahun 2011. Pada musim 2012, ia memilih bergabung dengan Orlando City dan kembali ke Inggris bersama Barnsley, Bury dan Chester.

2. Eden & Thorgan Hazard


Karier Edezn Hazard juga berbeda drastis dengan adiknya, Thorgan. Eden Hazard bergabung dengan Chelsea pada tahun 2012 setelah penampilan apiknya di Lille. Bersama The Blues, Eden Hazard sukses mempersembahkan tiga trofi dan puncaknya musim lalu saat mengangkat trofi liga inggris.

Nasib berbeda dialami Thorgan yang juga bergabung dengan Chelsea pada tahun 2012. Ia tak mendapatkan kesempatan bermain di Stamford Bridge dan mengalami dua kali masa peminjaman. Alhasil pesepak bola 22 tahun memutuskan untuk hengkang dan bergabung dengan Borussia Mönchengladbach.

3. Paul , Florentin Pogba dan Mathias Pogba


Pogba bersaudara terdiri dari tiga orang. Sosok yang biasa kita dengar tentu bernama Paul Pogba yang belum lama ini mendapat kepercayaan menggunakan jersey nomor 10 di Juventus, Paul juga bermain untuk timnas Prancis. Sedangkan dua kakak kembarnya, yakni Mathias dan Florentin Pogba justru membela timnas Guinea. Dua kakaknya memiliki nasib yang jauh berbeda dari adiknya , Paul Pogba. 

4. Tobias & Bastian Schweinsteiger


Berbeda dengan yang lainnya, karier sepak bola sang adik lebih bersinar ketimbang kakak. Hal ini terjadi pada kasus Schweinsteiger bersaudara. Karier Tobias di sepak bola kalah bersinar dengan adiknya, Bastian Schweinsteiger.

Sang abang, yang saat ini berusia 33 tahun hanya malang melintang di klub papan bawah Jerman. Tobias sempat bermain untuk SpVgg Unterhaching, Jahn Regensburg dan Bayern Munchen II.

Sedangkan Bastian sukses meraih sejumlah kesuksean dalam kariernya di Bayern Munchen dan tim nasional. Sang adik pernah merasakan jawara Bundesliga, Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, trofi Euro 2008 dan Piala Dunia 2014.

5. Paul & John Terry


Paul Terry merupakan kakak dari pemain bertahan Chelsea, John Terry. Berbeda dengan sang adik, karir Paul lebih banyak bersama klub-klub amatir. Seperti Dagenham & Redbridge, Yeovil Town, Leyton Orient, serta Thurrock. Pemain berusia 33 tahun ini bermain di lini tengah.

Sama dengan adiknya yang merupakan mantan kapten Timnas Inggris itu, Paul juga sering memunculkan kontroversi. Pada bulan Mei 2010, terungkap bahwa Paul berselingkuh dengan tunangan dari rekan setimnya di Rushden & Diamond, Dale Robert. Robert pun akhirnya bunuh diri pada Desember 2010 karena tak kuasa melihat kenyataan tersebut.

6. Rio dan Anton Ferdinand


Ferdinand bersaudara sama-sama mengawali karier sepak bola di West Ham United. Rio lebih dikenal dan meraih kesuksesan ketika bermain untuk Manchester United dalam rentang 2002-2014. Bersama Setan Merah, Rio Ferdinand sukses mempersembahkan 17 trofi.

Sedangkan Anton tak terlalu bersinar dalam kariernya. Pemain yang kini berusia 30 tahun itu belum pernah mempersembahkan trofi untuk klub yang dibelanya. Saat ini, Anton masih aktif bermain untuk klub dari Championship Division, Reading.

7. Toni & Felix Kroos


Felix merupakan adik kandung Toni. Ayah mereka, Roland Kroos, pelatih klub Hansa Rostock II. Felix dan Toni sama-sama memulai karier di klub yang berada di kota kelahiran mereka yaitu Greifswalder.  
Tepat pada 2006, Toni direkrut oleh klub terbesar Jerman Bayern Muenchen. Setelah menjalani masa-masa di tim muda Muenchen, Toni pun dipromosikan ke tim senior jelang musim 2007/2008. Momen-momen indah pun menyertai Toni seiring waktu.  Toni menjadi pilar lini tengah Muenchen. Puncak prestasi tentu hadir pada musim 2012/2013 kala Die Roten merebut trigelar sekaligus yaitu Bundesliga, DFB Pokal serta Liga Champions.


Ketika Toni hengkang ke Muenchen pada 2006, Felix masih bertahan di Rostock.
Setelah Rostock terdegrdasi, per 2010, Felix pindah ke Werder Bremen. Kontrak tiga tahun ditandatangan. Sampai musim 2015/2016 bergulir, Felix baru tampil sebanyak 57 kali dengan raihan satu gol.

Tak ada prestasi signifikan yang dipersembahkan Felix. Di level timnas, Felix hanya wara wiri di kancah U-16 sampai U-21. Belum pernah sekalipun Felix bermain untuk timnas senior.

Sekian dan Kunjungi Terus FTS90

Rabu, 06 April 2016

7 Momen Paling Mengharukan Dalam Sepak Bola

Dalam sepakbola momen mengharukan sudah sering terjadi. Seperti pada pertandingan final suatu kompetisi, pasti ada saja momen yang bisa dibilang mengharukan.
Sederet kisah lain yang bertabur sportivitas, kejujuran, fair play ataupun solidaritas pun telah tertulis dengan indah dalam buku sejarah.
Berikut adalah 7 Momen Paling Mengharukan Dalam Sepak Bola versi FTS90.


1.) Kembalinya Muamba Dari Kematian



Pada 17 Maret 2012, mereka yang menyaksikan laga antara Tottenham Hotspurs melawan Bolton Wonderers pada kompetisi Piala FA dikejutkan dengan suatu kejadian.
Di tengah laga, gelandang Bolton itu jatuh tak sadarkan diri dan jantungnya bahkan berhenti selama 78 menit.
Mungkin mereka beranggapan bahwa pemain Bolton yang jatuh tak sadarkan diri ditengah laga, yakni Fabrice Muamba kolaps, merasa keberhasilannya bertahan hidup bagi Muamba sebagai suatu keajaiban.
Muamba terselamatkan berkat peran besar staf medis Tottenham dan seorang spesialis jantung yang kebetulan sedang menonton di tribun.
Ketika diumumkan bahwa Muamba sudah sembuh pada 16 April, publik sepak bola pun merasa lega.
Pada 2 Mei, Muamba kembali ke Reebok Stadium untuk menyaksikan pertandingan Bolton melawan Tottenham. Dia masuk ke lapangan sebelum kick-off dan mendapatkan sambutan hangat dari semua penonton di arena saat itu.

2.) Trofi European Cup Untuk Korban Munich Air Disaster



Setelah satu dekade kejadian Munich Air Disaster yang memakan nyawa tujuh pemain, Manchester United berhasil meraih trofi paling bergengsi di Eropa.
Matt Busby, salah satu manajer dengan masa pengabdian terlama di United dan korban selamat dalam tragedi tersebut, sukses membuat The Red Devils kembali bangkit.
Saat mengangkat trofi European Cup pada tahun 1968, Matt Busby tak bisa melupakan para pemain yang sudah pergi mendahuluinya pada kejadian itu.
Trofi tersebut menjadi sebuah bentuk penghargaan yang sangat spesial bagi mereka para korban Munich Air Disaster.

3.) Kahn dan Canizares



Ketika Bayern Munich menjuarai Liga Champions 2001, tercipta sebuah momen spesial yang bisa dibilang mengharukan.
Setelah mengalahkan Valencia melalui adu penalti pada partai final di San Siro, para pemain Bayern merayakan keberhasilan mereka setelah berhasil menjadi juara. Tetapi, kiper Bayern Oliver Kahn melakukan hal yang berbeda.
Saat rekan-rekannya tengah bersenang-senang dengan kemenangan tersebut, Kahn, yang dikenal sebagai kiper yang keras dan tanpa kompromi di atas lapangan, justru berjalan ke arah Santiago Canizares. Kahn mencoba menenangkan kiper Valencia itu, yang terlihat sangat terpukul karena tidak bisa membawa timnya meraih kemenangan dalam laga final tersebut.
Moment of sympathy tersebut membuat Kahn menerima fair play award dari UEFA, trofi yang dengan bangga ia simpan sebagai bagian dari semua koleksinya.

4.) Bersatunya Athletic Bilbao dan Real Sociedad



Athletic Bilbao dan Real Sociedad memiliki sejarah rivalitas yang panjang.
Dua klub Basque itu selalu bersaing sengit demi menjadi yang terbaik. Namun, pada tahun 1976, mereka bersatu demi satu tujuan yang sama, sebuah kebebasan.
Saat itu, Spanyol masih diselimuti mendung bernama fasisme. Berbicara memakai bahasa Basque atau Catalan, bahkan mengibarkan bendera dua wilayah tersebut, adalah sesuatu yang ilegal.
Akan tetapi, itulah yang dilakukan oleh para pemain Bilbao dan Sociedad dalam pertemuan pertama mereka di musim 1976/77 silam. Mereka masuk ke lapangan dengan bendera Basque dan mendapatkan sambutan meriah serta mengharukan dari seluruh penonton yang hadir di stadion.

5.) Jersey Di Stefano Untuk Eusebio



Pada laga final European Cup 1962, Benfica berhasil meraih kemenangan mengesankan 5-3 atas Real Madrid.
Ketika laga berjalan, Real Madrid sempat unggul 3-2, tetapi dua gol sensasional youngster Eusebio berhasil memutarbalikkan keadaan dan membawa Benfica ke tangga juara.
Ketika laga berakhir, Alfredo Di Stefano memberikan jersey-nya kepada Eusobio, sebuah bentuk pengakuan terhadap sang calon bintang.

6.) Dari Iniesta Untuk Jarque



Setelah mencetak gol kemenangan Spanyol atas Belanda pada laga final Piala Dunia 2010, Andres Iniesta melakukan sebuah selebrasi yang tak terlupakan.
Gelandang La Furia Roja itu melepas jersey-nya untuk menunjukkan pesan yang berbunyi "Dani Jarque: siempre con nosotros" atau "Dani Jarque: selalu bersama kami."
Dani Jarque adalah teman baik Iniesta dan kapten Espanyol, rival sekota dari Barcelona, yang meninggal dunia akibat serangan jantung saat mengikuti pramusim pada tahun 2009.
Ketika Barcelona bertandang ke markas Espanyol, para suporter tuan rumah pun sampai mengesampingkan rivalitas demi memberi standing ovation untuk Iniesta.

7.) Eduardo Kembali Cetak Gol



Cedera patah kaki yang menimpa Eduardo pada Februari 2008 sempat diyakini bakal memaksanya untuk mundur dari sepak bola.
Tetapi, hampir setahun berselang, forward Arsenal itu mengakhiri penantian panjangnya dengan kembali ke skuad The Gunners untuk laga Piala FA melawan Cardiff City.
Comeback itu ditandai Eduardo dengan mencetak satu gol pada menit ke-20, sebuah gol yang membuat dia dan para suporter Arsenal diliputi suasana emosional.

Itulah 7 Momen Paling Mengharukan Dalam Sepak Bolaversi FTS90.
Sekian & Terima Kasih

Baca Juga :

Senin, 04 April 2016

5 Pesepakbola Top Yang Tidak Menyukai Sepak Bola

Sepakbola merupakan olahraga yang hampir disukai oleh semua orang di belahan dunia manapun, dan sepakbola juga olahraga yang membutuhkan kerja keras dan kecintaan pada sepak bola tersebut. kita bisa melihat seorang Christian Gonzales yang saat ini sudah berumur 39 tahun, masih sangat bersemangat dalam bersepakbola untuk membawa timnya meraih kemenangan. Tetapi bagaimana kalau seorang pesepakbola tersebut memang tidak mempunyai semangat dalam bermain sepakbola, Siapa sajakah mereka ?
Berikut daftar 5 Pesepakbola Top Yang Tidak Menyukai sepakbola


1. David Bentley


​Ia pernah dibanding-bandingkan dengan seniornya, David Beckham, bukan karena wajah tampannya, tapi karena kemampuannya dalam mengeksekusi tendangan bebas.

Tapi David Bentley yang pernah memperkuat Arsenal, Tottenham Hotspur, West Ham, Birmingham dan Blackburn Rovers ini gagal meningkatkan popularitasnya berdasarkan apa yang dilakukannya di atas lapangan. Namanya terus tenggelam dan dia memilih untuk pensiun saat usianya masih 29 tahun pada 2013, karena dia sudah bosan, itu saja.

2. Christian Vieri


​Anda perlu tahu bahwa olahraga yang begitu dicintai Bobo Vieri semasa kecil bukanlah sepak bola. Mantan striker Italia ini telah menghabiskan sebagian masa kecilnya di Australia dan tidak pernah menyembunyikan fakta bahwa ia mencintai sejak kecil. Vieri bisa menjadi pemain kriket yang baik, tapi pada akhirnya ia lebih memilih sepak bola dan kemudian menjadi salah satu striker terbaik di Serie A.

“Sejujurnya saya tidak begitu baik di sepakbola. Saya mencintai kriket dan ketika saya mulai mencetak banyak angka, saya bermimpi menjadi the next Allan Border,” Pungkas Vieri. Allan Border adalah mantan kapten timnas kriket Australia.

3. Stephen Ireland


Soal Stephen Ireland, 10 tahun silam ia pernah menulis dalam laman Bebo-nya seperti ini, “Sepakbola itu sampah, mengapa aku harus masuk ke dalamnya.”

Meskipun tak fenomenal tapi Ireland adalah salah seorang gelandang yang diperhitungkan di liga. Ia bahkan pernah lima musim membela Manchester City. 

4. Gabriel Batistuta


“Kami terkejut saat pekan lalu Gabriel Batistuta, salah seorang penyerang hebat dalam sejarah sepakbola dan pencetak gol terbanyak argentina, justru memiliki ketertarikan yang kecil pada sepakbola,” tulis Cuddihy.

Salah seorang penulis otobigorafi Batistuta, Alessandro Rialti, menyatakan hal ini dalam wawancara pada 1999: “Hal paling penting tentang Batistuta adalah dia tidak seperti pemain lain. Dia adalah seorang profesional yang baik yang tidak benar-benar menyukai sepakbola,”

Sepakbola hanyalah pekerjaannya di atas lapangan. Usai meninggalkan stadion seberes pertandingan, ia tak mau sepakbola menghantuinya sepanjang hidup.

“Saat ia datang ke kantor ku selama lima hari, dia bicara tentang keluarga dan kehidupannya di Argentina. Saat membahas sepakbola dan karirnya, ia berhenti. ‘Ada rekamannya di sana, kamu bisa mencarinya,” tutur Rialti.


5. Benoit Assou-Ekotto



Mantan pemain Tottenham Hotspur ini secara terbuka mengakui kalau ia bermain sepakbola dengan motif uang, dan bukan karena memiliki semangat terhadap sepakbola. Dalam wawancaranya dengan The Guardian pada 2010, Benoit mengaku kalau ia ingin memaksimalkan karirnya di sepakbola.

“Sebuah karir yang hanya bertahan 10, 15 tahun. Itu cuma pekerjaan. Ya, itu bagus, dan pekerjaan yang bagus. Saya tidak bilang kalau saya membenci sepakbola tapi ini tidak sesuai dengan gairahku,” ucap Benoit.

Meskipun demikian, ia mencoba untuk tetap profesional dengan tiba di tempat latihan tepat waktu dan menyelesaikannya. Namun, setelahnya ia tak pernah lanjut main bola, “Aku seperti turis di London.
Itulah daftar 5 Pesepakbola Top Yang Tidak Menyukai sepak bola versi FTS90 , sekian dan kunjungi terus FTS90

Sabtu, 02 April 2016

7 Transfer Unik dan Aneh Dalam Sepakbola

Transfer pemain dari stu klub ke klub lain memang sudah terbilang biasa, klub akan membeli pemain sesuai dengan kebutuhan. Transfer pemain bisa menguntungkan bagi klub dan juga bisa merugikan klub tersebut karena sang pemain tidak menunjukkan performa terbaiknya.
Namun jika diusut dari belakang, dalam sepak bola, ternyata transfer pemain selalu dibayar dengan uang. Ada juga transfer pemain yang dibayar dengan makanan dan lain sebagainya.
Berikut 7 Transfer Unik dan Aneh Dalam Sepakbola versi FTS90.

1.)Gary Pallister (1984)


Billingham Town ke Middlesbrough

Transfer: Satu set baju olah raga, satu tas bola dan jala gawang

Pemain yang berhasil meraih prestasi bersama Manchester United, yakni Pallister mengawali  karirnya dalam sepakbola tak terlalu glamor. Saat ia memutuskan hijrah dari Billingham menuju tim lokal yang lebih besar, yakni Middlesbrough pada usia 19 tahun.
Nilai transfer yang diberikan Middlesbrought adalah dengan satu set baju olah raga, satu tas bola dan jala gawang, yang memang pada saat itu Billingham Town kekurangan dan sedang membutuhkan semua benda tersebut.
Kemudian Manchester United membelinya dengan nilai transfer yang sangat besar bagi seorang pemain bertahan saat itu, yakni dengan harga sebesar 2,3 juta pound pada tahun 1989.


2.)Kenneth Kristensen (2002)


Vindbjart ke Floey

Transfer: Udang segar senilai berat badannya

Striker yang satu ini membuat sebuah kejutan di divisi tiga Liga Norwegia dengan mencetak banyak gol hampir di setiap laga, ini merupakan hal yang menarik minat dari Floey untuk mendatangkan sang striker.
Anehnya transfer pemain ini dibayar dengan udang segar sebanyak berat badan Kristensen. Jumlah itu diukur dengan timbangan ala pertandingan tinju.


3.)Ernie Blenkinsop (1921)


Cudworth ke Hull City

Transfer: 100 pound dan satu tong bir

Blenkinsop adalah seorang pemain yang berposisi sebagai bek kiri yang memiliki caps cukup banyak bersama timnas Inggris yaitu sebanyak 26 pertandingan, bahkan ia juga sering dipercaya sebagai kapten di beberapa laga
Namun pada awal kepindahannya dari klub kampung halamannya yakni Cudworth ke klub divisi dua Liga Inggris Hull bisa dibilang apa adanya dan sederhana, yaitu dengan sejumlah uang yaitu sekitar 100 pounds dan satu tong bir untuk diminum mantan rekan satu timnya saat bersenang-senang.


4.)Ian Wright (1985)


Greenwich Borough ke Crystal Palace

Transfer: Satu set anak timbangan

Pemain yang tak menyangka akan menjadi dipanggil timnas Inggris serta menjadi salah satu pemegang rekor gol terbanyak di Arsenal, sepertinya sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang tukang plester.
Namun jalan hidupnya berubah saat manajer Palace saat itu, Steve Coppell kagum saat menyaksikan penampilannya bersama Greenwich Borough dan membuat Coppell ingin memboyongnya ke Palace. Janjinya hijrah ke Palace ditukar dengan satu set anak timbangan, namun tak diangka enam tahun kemudian ia hijrah ke Arsenal berkat torehan 117 golnya bersama Crystal Palace.


5.)Marius Cioara (2006)


UT Arad ke Regal Hornia

Transfer: 15 kilogram sosis babi

Pemain asal Rumania ini dibayar dengan 15 kilogram sosis babi saat transfernya dari UT Arad ke Regal Hornia. Tetapi ia memutuskan untuk gantung sepatu pada satu hari sesudah ia resmi pindah ke  Regal Hornia dan klub baru itu pun meminta sosis yang sudah mereka bayar dalam transfer tersebut untuk dikembalian.
Setelah kejadian itu, Cioara meninggalkan sepak bola dan memutuskan untuk bekerja di sebuah pertanian di Spanyol dan mengatakan bahwa momen tersebut adalah sebuah penghinaan besar untuk dirinya. Tak cukup sampai di situ, mantan klubnya yakni UT Arad meminta kembali bayaran yang sudah mereka keluarkan yakni senilai satu hari makan malam untuk tim.


6.) Ion Radu (1998)


Jiul Petrosani ke Valcea

Transfer: 2 ton daging

Jiul Petrosani memutuskan untuk menjual gelandangnya ini demi dua ton daging sapi dan babi yang kemudian akan dijual untuk membayar gaji pemain. Pemain yang harus dikorbankan demi membayar gaji pemain lain adalah Ion Radu.
Presiden klub Jiul Petrosani menyatakan: "Kami akan menjual daging ini, kemudian membayar semua gaji pemain lainnya”. Transfer tersebut disetujui oleh klub Valcea, kemudian Ion Radu resmi bergabung bersama Valcea. Mungkin Ion Radu sudah tidak lagi terlambat untuk mendapat gaji di klub barunya.


7.)Liviu Baicea (1999)


Jiul Petrosani ke UT Arad

Transfer: 10 buah bola sepak

Jiul Petrosani dan klub Rumania lainnya, UT Arad tampaknya memiliki kebiasaan untuk melakukan kesepakatan unik.
Setelah sebelumnya menjual Ion Radu untuk dua ton daging, Jiul juga menjual bek Liviu Baicea dengan harga sepuluh buah bola sepak.


Itulah 7 Transfer Unik dan Aneh Dalam Sepakbola versi FTS90.

Sekian & Terima Kasih.